Tampilkan postingan dengan label Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Juli 2014

Cermatlah memilih teman

Bismillahirromanirrohim

Disaat kita remaja dulu, orang tua selalu menasehati ; "hati-hati ya nak dalam memilih teman !"
Ternyata kalimat itu terulang kembali, namun dari bibir kita, begitu menjadi orang tua dan memiliki anak remaja, rasa cemas dan rasa was-was di saat anak-anak kita telah memiliki komunitas sendiri, mulai lebih banyak berkumpul dengan teman-temannya tidak lagi seperti di saat dia masih anak-anak dimana lebih banyak bersama orang tua.

Begitu juga yang saya rasakan saat ini, pada anak saya Yoga yang sudah memasuki fase remaja, sudah lebih banyak beraktivitas di luar rumah, sudah lebih sering berkumpul bersama teman-temannya. Selalu saja berpesan padanya untuk berhati-berhati memilih teman. 

Disetiap dia pergi bersama temannya, kadang sering terselip rasa was-was, cemas jika terjebak dalam pergaulan yang tidak baik. Oleh karena itu sebelum pergi, selalu berpesan untuk mengingatkan dia agar berhati - hati memilih teman untuk berkumpul-kumpul dan selalu mengingatkan Yoga untuk tetap shalat tepat waktu, jangan sampai shalatnya tertinggal. Tidak cukup dengan berpesan sebelum pergi saja, disaat waktu shalat tiba, saya selalu BBM atau SMS Yoga mengingatkannya untuk segera melaksanakan shalat. Dan begitu juga selalu mengingatkan saatnya dia sudah harus pulang.

Mengapa kita begitu cemas ? 
Menurut saya, usia remaja dimana remaja lebih berpihak kepada teman akrabnya, sehingga penting sekali remaja tersebut untuk lebih berhati-hati dalam memilih teman, karena teman akrabnya akan memberi pengaruh besar dalam kehidupannya. 

Seperti yang saya temukan dalam kasus pada beberapa remaja saat ini, kasus itu semua berawal dari dia memilih teman, memilih komunitasnya, sering kali mereka berada di tempat yang salah, di waktu yang salah dan bersama dengan orang-orang yang salah. Ibaratnya, berada di tempat pandai besi yang sedang bekerja, jika kita berada di sekitarnya, ada dua kemungkinan yang terjadi, yakni bisa aja sebagian baju kita terbakar karena ada percikan api yang menyambar kita kalaupun tidak terbakar bajunya, paling tidak,  baju kita akan menjadi tidak sedap baunya karena mendapat aroma bakaran api tersebut.

Mengapa kita selalu harus cermat dalam memilih teman, agar kelak di akhirat kita tidak menyesal, seperti yang di firmankan Allah SWT dalam surah Al-Furqon (25) ayat 27 dan 28 :


wayawma ya'adhdhalzhzhaalimu 'alaa yadayhi yaquulu yaa laytanii ittakhadztu ma'a alrrasuuli sabiilaan 

27. Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya [1065], seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul".

[1065] Menggigit tangan (jari) maksudnya menyesali perbuatannya.




yaa waylataa laytanii lam attakhidz fulaanan khaliilaan 

28. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan [1066] itu teman akrab(ku).

[1066] Yang dimaksud dengan si Fulan, ialah syaitan atau orang yang telah menyesatkannya di dunia.

Agar tidak terjadi penyesalan di akhirat nanti seperti yang difirmankan Allah pada ayat diatas.
Maka sudah seharusnya kita memilih teman dalam pergaulan kita sehari-hari, karena bersama  teman yang baik akan memberi pengaruh yang baik pada diri kita. 

Teman yang baik akan selalu mengingatkan dan mengajak kita pada kebaikan, apalagi mereka yang sudah menjadi teman akrab atau sahabat. Karena kita sangat setia  pada sahabat kita, kita akan selalu mendengarkan apa yang dikatakan sahabat kita dan melakukan ajakan sahabat.

Itulah keuntungannya kita memilih sahabat. Sahabat yang baik adalah sahabat yang dapat membawa kita ke surga, maka dia akan selalu mengingatkan kita jika kita melakukan kelalaian atau kesalahan. Kita telah perintahkan Allah SWT untuk selalu bersama dengan orang-orang yang shaleh, ini kita dapat lihat di surah Al-Kahf (18) ayat 28 :


waishbir nafsaka ma'a alladziina yad'uuna rabbahum bialghadaati waal'asyiyyi yuriiduuna wajhahu walaa ta'du 'aynaaka 'anhum turiidu ziinata alhayaati alddunyaa walaa tuthi' man aghfalnaa qalbahu 'an dzikrinaa waittaba'a hawaahu wakaana amruhu furuthaan 

28. Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Teman atau sahabat yang baik akan selalu mengingatkan kita pada ketaatan kepada Allah SWT, selalu memotivasi kita untuk melakukan kebaikan, seperti senantiasa mendorong kita untuk beribadah lebih baik, memotivasi kita untuk meningkatkan ibadah, senantiasa berbakti kepada orang tua, mengingatkan kita untuk bertutur kata baik dan santun dalam bersikap, selalu mengajak kita untuk meningkatkan amal shaleh.

Maka beruntunglah orang yang telah memiliki sahabat yang baik, dimana dia tahu perangaimu yang nakal, dia tahu kelemahan dan kekuranganmu, dia tahu kamu banyak membuat kesilapan, tetapi dia tetap BERSAHABAT denganmu, dia tegur akan kesalahanmu, karena dia ingin masuk SURGA dengan mu. 

Dia adalah SAHABAT SEJATI mu, yang sangat TULUS menyayangimu, dan yang tidak pernah memanfaatkanmu.....JAGALAH hatinya selalu, jagalah hubungan baik yang sudah terjalin tersebut, janganlah engkau meninggalkan dia, janganlah merasa bosan karena sering diingatkan atau di nasehati, tetaplah bersabar dengan nasehat-nasehatnya itu, seperti perintah Allah di surat Al-Kahf diatas, karena dari 10 orang yang kamu kenal hanya satu orang yang kamu temui orang seperti dia.





Sabtu, 05 Juli 2014

Allah akan tambahkan nikmat-Nya

Bismillahirromanirrohim

Bila kita mencintai seseorang, kita pasti dengan senang hati menghabiskan waktu bersamanya dan selalu ingin berdua dengannya. Lalu bagaimana kecintaan kita pada Allah 

Pernahkah kita ingin hanya selalu bersama-Nya menghabiskan waktu kita, berlama-lama dengan-Nya? 
Bila kita mencintai Allah, maka dengan senang hati kita mengorbankan  sesuatu yang kita sayangi, misalnya kita akan mengorbankan waktu kita dan kenikmatan yang kita miliki, dimana disaat orang - orang lain tertidur lelap dikasur yang empuk, sementara kita bersimpuh bersujud pada-Nya, berdzikir mengagungkan-Nya, itulah sebagian pengorbanan hamba kepada Penciptanya.

Hamba-hamba Allah yang mencintai-Nya akan bangkit dari tidur untuk beribadah pada-Nya dan menginfaqkan sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadanya.




tatajaafaa junuubuhum 'ani almadaaji'i yad'uuna rabbahum khawfan wathama'an wamimmaa razaqnaahum yunfiquuna 

16. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya [1194] dan mereka selalu berdo'a kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. 
As-Sajdah (32) ayat 16 )

[1194] Maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam. 
Lalu bagaimanakah kecintaan Allah pada hamba-Nya?
Allah akan semakin mencintai hamba-Nya yang mengorbankan waktu dan hartanya, maka Allah akan tambahkan nikmat-Nya dengan menjanjikan surga khusus untuk hamba-Nya yang  istiqomah mengorbankan waktu tidur dimalam hari  untuk melaksanakan shalat Tahajjud, senantiasa bermohon ampunan Allah dengan penuh rasa takutnya akan azab Allah atas dosa-dosa yang menyelimuti dirinya. 

Allah akan menambahkan nikmat-Nya, ketika melihat hamba yang bersujud pada-Nya ditengah malam,  dimana seharusnya dia tidur nyenyak dikasur yang empuk, namun dia bangkit dari tidurnya meninggalkan kenikmatan duniawi dengan penuh harap mendapatkan keni'matan surga milik Allah.

Begitu juga kepada hamba-Nya yang senantiasa bersedekah / berinfaq melepaskan harta yang dicintainya, memberi makan orang miskin, melepaskan hartanya untuk orang-orang dalam kekurangan.

Bagi Allah, pengorbanan ini adalah pengorbanan yang istimewa dari hamba yang mencintai-Nya. Maka Allah menyediakan hadiah yang istimewa untuk hamba-Nya, yakni surga khusus seperti yang difirmankan-Nya dalam surat  As-Sajdah(32) ayat 17;



falaa ta'lamu nafsun maa ukhfiya lahum min qurrati a'yunin jazaa-an bimaa kaanuu ya'maluuna 

17. Tak seorangpun mengetahui berbagai ni'mat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.
 
Orang-orang yang senantiasa sholat malam memiliki surga yang khusus untuk mereka. Dari Abdullah bin Umar dari Nabi SAW bersabda :
" Sesungguhnya di surga ada sebuah ruangan yang mana bagian luarnya dapat dilihat dari dalamnya dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luarnya, Allah menyiapkannya untuk orang yang memberi makan, melembutkan tutur kata, senantiasa mengikuti sholat dan sholat di malam hari ketika manusia tidur lelap". (HR. Thabrani)

Tidakkah kita menginginkan surga yang istimewa itu ?
Untuk itu .... yuk, kita giatkan shalat Tahajjud kita, sedekah/ infaq kita, serta senantiasa menjaga tutur kata dengan tutur kata yang lembut dan santun, apalagi pada saat sekarang bulan istimewa ini yakni bulan Ramadan....bulan penuh ampunan, bulan penuh Rahmat...bulan penuh berkah.  Sayang sekali loh kalau kita sia-siakan kesempatan emas ini.









 

Jumat, 04 Juli 2014

Bermetamorfosis

Bismillahirromanirrohim

"Ahh.... tak usah kamu menasehati saya"
"Jangan sok alim ya kamu sekarang !!"
"Saya tahu bagaimana kamu dulu,  bisa-bisanya kamu menasehati saya sekarang !!"

Pernahkan anda mendengar percakapan seperti ini? 
Beberapa minggu yang lalu, saya mendengar cerita dari suami, bahwa ada pertengkaran kecil yang terjadi diantara jamaah mesjid, ditempat suami saya biasa melakukan shalat, terucaplah kata-kata  demikian dalam pertengkaran kecil itu 

Saya berpikir, adakah seseorang dalam perjalanan hidupnya tidak miliki catatan gelap dalam buku hidupnya ??
Mengapa dengan mudahnya orang membuka kembali catatan gelap itu ?
Sementara, Allah dengan kasih sayang-Nya menutupi aib semua hamba-Nya.

Apakah dalam sejarah hidup, seseorang harus jadi "pahlawan" ?
Bila sesorang dalam perjalanan hidupnya itu melakukan kesalahan dan memiliki catatan buruk haruskah masyarakat menghukum dia seumur hidupnya?. 
Sementara Allah, Tuhan pencipta semua makhluk memberikan ampunan-Nya kepada hamba-Nya yang bertobat. Lalu mana yang lebih buruk dia atau kita yang membuka kembali catatan gelap itu ?
Apa kita sudah cukup bersih menjadi hamba Allah? 

Kita lihat bagaimana janji Allah yang Maha Pengasih, Maha Pengampun kepada hamba-Nya yang bertaubat dan memperbaiki diri di dalam firman-Nya (Al-Quran), dan banyak sekali kita menemukan ayat-ayat yang menjelaskan Allah Maha Pengampun, diantaranya pada surah An-Nahl (16) ayat 119; 




tsumma inna rabbaka lilladziina 'amiluu alssuu-a bijahaalatin tsumma taabuu min ba'di dzaalika wa-ashlahuu inna rabbaka min ba'dihaalaghafuurun rahiimun 
119. Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam setiap Firman-Nya dijelaskan bahwa Allah mengampuni hamba-Nya yang bertaubat, karena Allah tahu bahwa manusia itu tempatnya salah. Dalam menjalani hidupnya manusia tak luput dari berbuat salah. Namun Allah memberi kita kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri.

Di perjalanan hidup, manusia mengalami metamorfosis untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Untuk bermetamorfosisi bukanlah sesuatu yang mudah, kita memerlukan kesungguhan, kesabaran dan sangat memerlukan dukungan orang-orang disekitar kita.

Meninggalkan masa lalu, meninggalkan kebiasaan-kebiasan yang dulu adalah perjuangan berat, karena setan dan iblis yang menjadi musuh manusia tak henti-hentinya menjerumuskan manusia kedalam lembah dosa.

Saya sangat haru melihat orang mampu bermetamorfosis menjadi hamba Allah yang lebih bertaqwa, karena saya menyadari sekali itu adalah sesuatu yang terberat di lakukan, perjuangan terbesar yang dilakukan oleh seseorang. Hanya tangan Allah yang mampu menguatkannya untuk melakukan perubahan diri, menata diri menjadi lebih baik. Sungguh beruntung orang yang telah bermetamorfosis , yang mampu memperbaiki diri menjadi lebih baik, sehingga kecintaan dan ampunan Allah di raihnya.

Sebagai hamba Allah, saya juga tak luput dari kesalahan-kesalahan, dosa-dosa. Oleh karena itu setiap saat saya berjuang untuk berbenah diri, menata hati. Terkadang disaat bangkit, kembali lagi tergelincir pada lembah kesalahan, dan dosapun tak dapat dielakkan, oleh karena itu disaat bermetamorfosis, saya selalu sertai permohon pada Allah agar diberi ke kuatan untuk melawan kelemahan diri sendiri, diberi kemampuan untuk bersungguh-sungguh, bersabar menjalani proses perubahan itu. 

Alhamdulillah, kita di pertemukan kembali dengan bulan suci Ramadan. Suasana di bulan suci Ramadan yang sangat syahdu ini , sangatlah membantu sekali untuk  bermetaformosis, memperbaiki diri, meningkatkan ketaqwaan, menata hati dengan meningkatkan rasa syukur pada-Nya, meningkatkan empati pada sesama, semoga perubahan diri mendatangkan Ampunan-Nya, meraih Rahmat-Nya, dan harapan menjadi penghuni surga-Nya kelak.

Inilah satu diantara rahasia "puasa" yang diperintahkan Allah kepada hamba-Nya. Puasa yang dilakukan tidak hanya puasa menahan lapar dan haus, tapi puasa mata, puasa telinga, puasa lisan. Rahasia perintah itu, tak lain adalah membantu manusia untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, ketaqwaan, karena Allah tahu apa yang dibutuhkan manusia. Puasa dibutuhkan manusia untuk bermetamorfosis, memperbaiki diri.

Saya sangat terinspirasi kata-kata bijak berikut ini ; 

Tuhan MEMPROSES hidup seseorang,
Bagaikan…, seorang penambang emas di sungai, MEMPROSES endapan “lumpur hitam”, yang diambil dari dasar sungai, “dipilih” dan “dilebur” jadi LOGAM MULIA…

Banyak yang diambil…
Tapi sedikit yang terpilih…

Yang TERPILIH,
Dicuci dengan KESABARAN dan KETABAHAN… hingga nampak mulai berkilau, keadaannya jadi jauh LEBIH BAIK dari sebelumnya…

Tapi…
Yang TIDAK TERPILIH,
Pasti akan TERJATUH kembali ke dalam sungai, LENYAP tak berbekas dalam “kebinasaan”…

Selanjutnya…
YANG TERPILIH,
Harus masuk dalam PROSES PEMURNIAN…,
Kuali panas siap melelehkannya…

Siapa yang MENYERAH,
Dan tak dapat bertahan…,
PASTI akan hancur oleh panasnya kuali pemurnian…!

Tapi…
Siapa yang BERTAHAN…,
Dialah yang teruji…!
JADILAH EMAS MURNI YANG TERBAIK…!!!

Semoga saya dan kita semua mampu bersabar melewati proses yang harus dilewati untuk menjadi hamba Allah yang bertaqwa demi meraih surga-Nya kelak. 






Selasa, 10 Juni 2014

Menyikapi Gunjingan

Bismillahirromanirrohim

Kok tidak seperti apa yang dikatakan orang-orang selama ini ya...?!?
Kalimat tersebut bukanlah yang pertama saya dapatkan dari orang yang belum lama mengenal saya.
Sudah beberapa kali saya mendengar kalimat seperti itu dari beberapa orang kepada saya.

Ini dampak dari  saya yang Introvert, dimana tidak suka berkumpul-kumpul untuk mengobrol, lebih suka menyendiri dan lebih senang bekerja sendiri, inilah yang menjadikan saya agak aneh di lingkungan saya. Sifat saya yang tertutup itulah menjadi bahan pembicaraan bagi orang yang tidak banyak tahu tentang saya, mereka lebih sering menyimpulkan sendiri, namun sering kali yang terjadi adalah banyak salah mereka dalam menyimpulkannya, maka jadilah berita tak sedap tentang saya. 

Mengetahui  jadi objek atau bahan pembicaraan dari orang lain pastilah ada rasa tidak nyaman, kesal, sedih atau merasa direndahkan. Lalu bagaimana saya menyikapinya ..?
Apakah saya mendatangi orang tersebut lalu marah-marah...? 

Alhamdulillah, saya belum pernah melakukannya. Saya membiarkan saja, karena saya berprinsip biarkanlah waktu yang akan menjelaskan pada mereka, jika kita benar tidak perlu banyak bicara untuk menjelaskannya, karena toh mereka akan menilai itu suatu pembelaan diri, jadi saya lebih memilih diam, saya yakin bahwa  suatu saat nanti mereka akan tahu sendiri. 

Apakah saya kuat mengetahui dipergunjingkan ? Awalnya tentu saja tidak ! 
Dan apa yang membuat saya bisa tenang menyikapi mereka. Pertama saya nggak mau tahu detailnya tentang hal-hal yang dibicarakannya dan siapa yang membicarakan saya, supaya tidak membenci orang tersebut, sehingga mampu dengan mudah  memaafkannya, itulah yang bisa melapangkan dada saya, maka  cara yang terbaik adalah bersabar dan memaafkan, seperti yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya pada surah Ali Imran ayat 159 :


159. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Jika yang saya rasakan itu sudah berlebihan, saya cukup curhat saja ada Allah, "Ya Allah, jika apa yang mereka bicarakan itu adalah benar tentang saya, maka ampunilah saya ya Rabb, namun jika yang mereka bicarakan itu tidak benar maka ampunilah atas ketidaktahuan mereka"

Untuk menghibur diri saya sering berucap " karena amal ibadah saya belum cukup, jadi  Allah mentransfer kebaikan-kebaikan mereka untuk saya dengan cara seperti ini " sesaat kemudian saya bisa tenang kembali, bahkan saya jadinya bisa jatuh iba pada mereka, kasihan,  mereka menghabiskan waktu dengan sesuatu yang sia-sia.

Dari hal yang saya alami, saya dapat mengambil hikmahnya, mengapa bergunjing itu sangat dilarang. Dampak psikologis bagi orang yang digunjingkan sangatlah tidak baik, akan menimbulkan perpecahan, permusuhan. Dan bagi pengunjing mendatangkan dosa besar, kehilangan amal ibadahnya, karena amal kebaikan-kebaikan yang ada dalam dirinya berpindah kepada orang yang dipergunjingkannya. Jadi bergunjing menjadikan kita adalah orang yang merugi banget toh !!!

Rasulullah SAW bertanya, "Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu ?" 
Para sahabat menjawab, Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya harta sama sekali" 

Rasulullah bersabda, "Orang yang bangkrut dikalangan umatku adalah orang yang datang di hari kiamat nanti dengan membawa shalat, puasa, dan zakat. Tetapi ia pun datang dengan membawa dosa mencaci si anu, menuduh si anu, makan harta si anu, menumpahkan darah si anu, memukul si anu. Akibatnya, diambilah kebaikan-kebaikan yang sudah ia lakukan dan di berikan pada mereka yang ia zalimi. Jika kebaikannya sudah habis padahal belum selesai pembayaran kepada mereka maka dosa-dosa merekalah yang akan dicampakkan kepadanya lalu ia pun dilemparkan ke neraka" ( HR. Muslim dari Abu Hurairah ra ).

Jadi kesimpulannya, jika kita di pergunjingkan janganlah marah, tapi lebih baik kita berusaha memaafkannya agar dada kita tidak terasa sesak dipenuhi oleh kemarahan, kesabaran kita atas ketidaknyaman itu, rasa direndahkan itu akan digantikan dengan kemulian di mata Allah. 

Dan perlu di ingat juga agar kita tidak menjadi orang yang bangkrut di akhirat nanti maka janganlah kita ikut-ikutan bergunjing.  Karena bergunjing sangat di larang Allah SWT, seperti yang difirmankan-Nya dalam surah Al-Hujurat (49) ayat 12.


Wahai orang-orang yang beriman ! Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudara yangbsudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang 








Senin, 09 Juni 2014

Ya Allah, Tunjukilah Jalan Yang Lurus

Bismillahirromanirrohim

Surah Al-Fatihah (1) ayat 6


ihdinaa alshshiraathalmustaqiima 

(Tunjukilah kami jalan yang lurus )

Pada ayat ke 6 ini adalah permohonan pada Allah agar ditunjuki jalan yang lurus, diberi hidayah dan taufik. Dalam menjalani hidup, manusia memerlukan hidayah, dan pemberi hidayah dan taufik hanya Allah SWT, maka mendekatlah pada-Nya . Hidayah itu harus di raih bukan ditunggu. 

Bagaimana mungkin hidayah akan di raih, kalau lebih banyak waktu untuk menonton sinetron atau acara infotement dari pada menonton acara tauziah di televisi.
Bagaimana mungkin hidayah akan di raih, kalau telinga lebih suka mendengar musik dari pada lantunan ayat-ayat al-quran.
Bagaimana mungkin hidayah akan di raih, kalau lebih betah berlama-lama membaca dan memahami alur cerita yang ada pada novel dari pada membaca dan memahami ayat-ayat al-quran.
Bagaimana mungkin hidayah akan di raih, kalau lebih sering berkumpul dengan teman dari cafe ke cafe dari pada berkumpul bersama di mesjid mengikuti majelis ta'lim.
Bagaimana mungkin hidayah akan di raih, kalau lebih sering wisata ke manca negara dari pada wisata rohani ke kota mekah.
Bagaimana mungkin hidayah akan di raih, kalau lebih merindukan menara efel dari pada Kabah.
Bagaiamana hidayah akan di raih kalau lebih tertarik mengobrol tentang berita terkini, gosip terkini dan lain sebagainya dari pada diskusi bersama teman tentang imu fiqih dan ilmu tauhid.
Bagimana mungkin hidayah akan di raih, kalau tidak tertarik akan kiriman sms atau bbm dari teman berisikan artikel berupa nasehat, hadist, atau ayat-ayat Al-Quran, tapi lebih tertarik membaca artikel lelucon, atau bacaan vulgar.

Maka tak heran kalau orang tua selalu menasehati "bila ingin mendapatkan hidayah, berkumpullah dengan orang-orang sholeh  dan bergabunglah pada kegiatan mesjelis ta'lim serta selalu mempelajari  Al-quran dan hadist"

Dulu saya selalu semangat sekali untuk bersegera mengkhatam Al-Quran, targetnya ODOJ (one day one juz), saya beryakinan dengan hanya khatam Al-Quran berkali-kali maka jiwa jadi tercerahkan, ternyata itu belum cukup. 

Untuk mendapatkan hidayah itu saya harus mengganti cara saya, kini saya tak lagi targetnya ODOJ, tapi lebih memilih untuk mengerti dan memaknai artinya dengan menggunakan akal saya dengan mengaktifkan qolbu. 

Astagfirullah..... ternyata setelah saya mempelajari dan memahami dari ayat per ayat, barulah saya menyadari masih banyak yang saya abaikan, masih banyak yang saya lupakan dan masih banyak juga yang belum saya ketahui  selama ini. 

Mulai saat itulah saya bertekad  akan bersungguh -sungguh mempelajari dan memahami setiap firman Allah yang terdapat di dalam Al-Quran, ayat per ayat saya belajar memahami maknanya dan berusaha mengamalkannya dalam keseharian, sedikit demi sedikit, maka pencerahan itu baru bisa saya rasakan, jiwa menjadi tenang, bisa menjadi lebih tenang bila musibah melanda,  selalu merasa berkecukupan, tidak takut akan kehidupan nanti karena percaya Allah akan selalu mencukupinya, selalu menjaga dan melindungi. Ternyata dengan kita memahami apa yang ada di balik perintah-Nya, maka kita menjadi hamba-Nya senantiasa bersyukur 

Untuk menjaga usaha tersebut, saya lebih memilih teman yang bisa di ajak berdiskusi tentang hal tersebut, mulai mengurangi berkumpul dengan orang-orang  yang hanya mengobrol yang tak jelas ujungnya, awalnya pastilah berat, menjadi tersisih dari orang-orang yang biasa berkumpul, tertawa riuh,  tapi demi meraih Hidayah-Nya saya harus lakukan itu. 

Saya berfikir, tidak ada teman yang akan terus bersama  sehidup semati, dalam suka maupun duka, tak akan terpisahkan, dan tak juga ada yang akan menemani saya di kubur nanti. Hanya amal sholeh-lah yang akan terus menemani saya, bersama saya  bahkan menemaninya dalam kubur, dan kemudian amal sholeh saya pula lah yang menemani saya menghadap Allah, maka itulah yang harus saya raih dengan sungguh-sungguh. 

Jadi tak ada artinya  berdoa "Tunjukilah kami jalan yang lurus " jika tidak berusaha mencari jalan yang lurus itu.  Semoga Allah memberi kemudahan pada kita semua untuk mencapai itu.

"Ya Rabb, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami Rahmat dari sisi-Mu, perbaikilah untuk kami agama kami, perbaikilah dunia kami dan perbaikiah akhirat kami yang merupakan tempat kembali.....Aamiin"














Selasa, 27 Mei 2014

Manusia itu benar-benar dalam kerugian

Bismillahirromanirrohim

inna al-insaana lafii khusrin 
                                                                          (Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian)

Dengan memahami ayat ini, menyadarkan kita bahwa manusia itu benar-benar dalam kerugian, karena kita banyak sekali mengabaikan kesempatan dalam meraih hal-hal yang istimewa yang Allah berikan pada manusia, diantaranya;

Seringnya lalai diwaktu shalat, jarang sekali bersiap-siap menunggu waktu shalat, padahal disaat kita menunggu waktu shalat dan menjawab Adzan, maka para Malaikat mendoakan orang-orang sedang menunggu waktu shalat, dan waktu antara Adzan dan Iqomah adalah waktu yang mustajab untuk berdo'a, tapi waktu yang istimewa ini kita abaikan.

Seringnya kita terburu - buru bangkit setelah shalat, enggan untuk menyisihkan waktu untuk berdzikir dan bersalawat, padahal Rasulullah SAW bersabda: "Para malaikat akan selalu bershalawat (berdoa) kepada salah satu di antara kalian selama dia ada di dalam tempat shalat dimana dia melakukan shalat, selama dia belum batal wudhu’nya, (para malaikat) berkata: 'Ya Allah, ampunilah dan sayangilah dia' ".

Padahal dzikir adalah ibadah lisan yang fadilahnya terbangunnya rumah di surga untuk orang-orang yang senantiasa membasahi lidahnya dengan dzikir, tapi Janji Allah ini sering sekali kita abaikan, padahal ibadah ini adalah mudah, tapi tetap aja berat untuk melakukannya.
Dzikir merupakan ibadah yang paling mudah, paling mulia, dan paling utama, dzikir-adalah-tanaman-surga. Sabda Rasullah :
" Aku bertemu dengan Ibrahim di malam saat aku di Isra'kan. Beliau berkata , "Wahai Muhammad! sampaikan salamku untuk umatmu, beritahu mereka bahwa surga itu tanahnya baik, airnya segar, dan surga bagaikan lapangan dan tumbuhannya ialah  Subhanallah walhamdulillah wala Ilaha Illallah wallahu Akbar Wala La Haula Wa la Quwwata Illa billah. Tapi masih saja kita enggan untuk menyisihkan waktu untuk dzikir

Sering sekali masih enggan menyisihkan waktu hanya beberapa menit saja untuk shalat Dhuha, dengan alasan "banyak pekerjaan", takut kehilangan waktu untuk mengejar rezeki, padahal dengan hanya menyisihkan waktu 10-20 menit untuk shalat Dhuha, Allah memudahkan semua pekerjaan kita,dan memudahkan kita meraih rezeki dari Allah, dengan kata lain  rezekilah yang mengejar kita.

Takut berkurang harta, bila menyisihkan sebagian hartanya, padahal Janji Allah pada orang-orang yang sering sedekah akan dilipat gandakan harta yang disedekahkan tersebut,  masih saja enggan sekali mengawali waktunya bersedekah setiap hari, padahal  tahu bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Tidak satu hari pun di mana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali dua malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit' ". (Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

Sering kita kuat menahan kantuk mata untuk menonton televisi, tapi merasa berat melawan kantuk untuk mengerjakan shalat tahajjut  padahal hanya menyisihkan waktu beberapa menit saja untuk shalat tahajud, Allah meninggikan dan memuliakan orang melakukan ibadah dimalam hari dimana sementara yang lain terlelap dalam tidurnya "Dan sebagian malam bersholat tahajjutlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ketempat terpuji" (Al Israa' 17 : 79).

Masih banyak lagi keistimewaan yang Allah berikan pada manusia, namun manusia mengabaikannya .....Astaqfirullah.

Ya Allah, perbaikilah untuk hamba agama hamba
Ya Allah, hamba berlindung kepadaMu dari kekerasan hati, kelalaian, kemalasan, kekikiran, kehinaan, kekufuran, kefasikan, hati yang tidak khusyu
Ya Allah, jadikanlah aku hamba-Mu yang banyak mengingatMu, banyak mensyukuri nikmatMu, sangat patuh terhadap perintahMu, selalu merendahkan diri kepadaMu.Aamiin.













Minggu, 09 Februari 2014

Maaf, aku yang salah

Bismillahirromanirrohim

Maaf ..... Aku yang salah... Kalimat yang sederhana namun tak sederhana itu orang mampu mengucapkan kalimat tersebut. Oleh karena itu sangat luar biasa bila semua orang mampu mengatakan hal ini.

Sebagaimana sifat manusia tak ingin disalahkan meskipun ia sebenarnya nyata -nyata salah, maka tak heran ia dengan sekuat tenaga dia akan melakukan pembelaan diri. Sudah benar - benar salah saja sulit mengatakan "Maaf ..... Aku yang salah", apalagi kalau tidak salah semakin sulit mengatakan kalimat tersebut, malah lebih sering terucap kenapa harus minta maaf.... toh bukan aku yang salah, dia yang salah, mestinya dia dong yang minta maaf....!!!

Maaf ..... Aku yang salah...Padahal kalimat yang sederhana seperti itu akan memberikan kekuatan luar biasa. Coba kita bayangkan jika kita berada dalam suatu konflik, tiba-tiba diantara kita ada yang mengatakan Maaf ..... Aku yang salah, tentulah kalimat pendek tersebut bisa menghadirkan kesejukkan dan kedamaian diantara orang-orang yang sedang berseteru.

Meminta maaf bukanlah karena kita salah, tapi karena itu lebih baik dilakukan daripada berdebat yang akan hanya menyakitkan hati nantinya dan pastinya  tiada berkesudahan

Meminta maaf terlebih dahulu adalah suatu sikap yang bijak, karena mampu mengalahkan ego kita. Biarkan suasana reda terlebih dahulu, mungkin kesokkan harinya atau beberapa waktu kemudian kita bisa menjelaskan hal yang sebenarnya, dengan cara ini lebih baik dan lebih bijak, karena bila semuanya  sudah mereda, maka masing-masing akan dengan mudah menerima dan memahami penjelasan yang kita berikan, maka konflik berkepanjangan bisa kita cegah.

Maaf ..... Aku yang salah...Mengucapkan kalimat itu tidaklah mudah, karena kita sering berpikir membuat kita menjadi rendah, kalah dsb. Padahal mengatakan hal tersebut tidak membuat kita menjadi rendah di mata orang lain, namun kemulian akan kita raih. 

Menurut  saya, semua orang akan menjadi sangat kagum dan bangga bila mendapati orang yang mampu mengatakan "Maaf ..... Aku yang salah" pada saat ia memang dalam posisi salah dan saya akan semakin kagum dan bangga pada orang tersebut, disaat saya tahu, bahwa sebenarnya bukanlah dia yang salah.

So.... agar konflik bisa mereda dengan cepat, maka tak usah ragu-ragu untuk mengatakan Maaf ..... Aku yang salah dan yang lain mau menerima maafnya, sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya dalam surah An-Nur ayat 22 :

 

22. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka MEMA'AFKAN dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 





Jumat, 31 Januari 2014

# 1Hari 1 Ayat : Ridho akan ketetapan Allah

Bismillahirromanirrohim





walaw annahum radhuu maa aataahumu allaahu warasuuluhu waqaaluu hasbunaa allaahu sayu/tiinaa allaahu min fadhlihi warasuuluhu innaa ilaa allaahi raaghibuuna 
 Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah," (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). ( At - Taubah (9) ayat  59 )

Kita harus menyakini  bahwa setiap yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak dan takdir Allah SWT. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Semua yang terjadi atas izin-Nya, dan pasti terbaik untuk kita.

Ridha dengan apa yang diberikan Allah. Inilah yang harus kita amalkan dalam setiap hari, dengan begitu bila kita mengalami musibah, seberat apapun beban itu akan terasa ringan.  

Apapun yang terjadi hendaknya selalu berbaik sangka pada Allah SWT, karena  banyak cara Allah memuliakan hamba-Nya, justru di saat Allah berikan cobaan, Allah memperlihatkan sayang-Nya, bila hamba-Nya sabar menghadapinya maka Allah menaikkan derajat hamba tersebut.

Mungkin saja kita membenci sesuatu, padahal itu amat baik untuk kita. Tapi bisa saja yang kita sukai justru itu amat buruk untuk kita, kita tidak mengetahuinya namun Allah Maha Mengetahui.

Dengan keyakinan tersebut maka diri akan merasakan ketenangan didalam hati serta ridho atas apa pun yang Allah SWT tetapkan atas diri baik ia berupa kebahagiaan maupun kesengsaraan, kelapangan maupun kesempitan. 

Suatu saat Allah menyempitkan, supaya kita tidak hanyut dalam kesenangan dan menjadi sombong.
Disaat kita bermohon pada-Nya kekuatan dalam menghadapi ujian, Allah Yang Maha Bijak dan Maha Penyayang menghadirkan orang-orang yang memerlukan uluran tangan kita, memerlukan dukungan kita, dengan menolong mereka maka kita akan mendapatkam kekuatan yang kita minta pada-Nya, begitu indah cara Allah tersebut.

Di setiap kebahagiaan maupun kesengsaraan, kelapangan maupun kesempitan yang turunkan Allah kepada kita, Allah mengingatkan kita untuk tetap bersandar pada-Nya. Karena itu semua bentuk ujian keimanan yang Allah berikan kepada kita.

Misalnya saja disaat Allah membukakan pintu kebaikan dan keberhasilan untuk kita, pada waktu bersamaan dibukakan juga mulut para pencela dan pendengki untuk kita yang akan menghujat dan membenci kita seiring keberhasilan yang kita dapatkan. 

Mengapa Allah hadirkan orang-orang seperti itu pada kita...? Tak lain, Allah bermaksud untuk tetap menjaga kita, agar terhidar dari sikap sombong, takabur. Dengan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan tersebut itu akan menjadikan kita senantiasa lari berlindung pada Allah dalam menghadapi orang-orang tersebut. Dan "Cukuplah Allah bagi kami..... sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah"

Setiap peristiwa yang terjadi, hendaknya kita belajar mengambil hikmahnya, dan meyakini bahwa setiap peristiwa yang di timpakan Allah pada kita, adalah cara Allah menyayangi kita dan setiap yang diberikan-Nya pastilah yang terbaik.


                                 

Kamis, 30 Januari 2014

# 1Hari 1 Ayat : Al-Quran mudah di pelajari

Bismillahirromanirrohim

Surah Al-Qamar (54) ayat 17



17. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?  

30 hari sudah, saya mengikuti tantangan menulis 1hari 1ayat. Banyak manfaat yang saya dapatkan dari tantangan ini. Tantangan ini memaksa saya untuk belajar memahami ayat demi ayat yang terdapat dalam Al-Quran. 

Al-Quran adalah sumber referensi yang terbaik bagi manusia, sebagai rambu-rambu bagi manusia dalam perjalanan hidupnya. Ibarat traffic lights bagi para pengemudi jalan raya, selama mentaati rambu-rambu tersebut, maka tidak akan ada kecelakaan yang terjadi di jalan raya. Begitu juga Al-Quran, selama kita mengikuti apa yang tertulis dalamnya, maka akan selamatlah kita di perjalanan dunia dan perjalanan  akhirat yang akan menjadi perjalanan abadi kita.

Sebagai referensi terbaik, Allah menjadikan Al-Quran itu mudah untuk dipelajari. Al-Quran menjadi nara sumber terbaik untuk semua pengetahuan. Dalam Al-Quran semua dijelaskan, misalnya  saja untuk mengetahui  tentang jagat raya, matahari dan alam semestanya dapat kita temukan pada surah Ar-Radu(13) ayat 2 atau ingin mengetahui bagaimana manusia di ciptakan, tentang hal ini kita dapat menemukan dalam Al - Quran surah Al-Hijr (15) ayat 28-29.....(seharusnya C.Darwin membaca Al-Quran terlebih dahulu kali ya sebelum melahirkan teori Evolusi manusia ). Untuk mengetahui bagaimana caranya membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahma dapat kita lihat pada surah An-Nisa. 

Allah mengetahui keterbatasan manusia, oleh karena itu Allah menurunkan Al-Quran dengan sangat mudah untuk di pelajari, agar tidak membebani hamba-Nya, hanya saja kita tidak menyadari hal tersebut. Selama ini kita selalu saja mengacu pada buku pengetahuan yang ditulis oleh manusia, dimana banyak teori-teori masih di ragukan keakuratannya.

Subhanallah, banyak sudah saat ini para ilmuan non muslim yang mulai mempelajari Al-Quran untuk menjadi referensi suatu ilmu pengetahuan, contohnya ahli saraf yang pada akhirnya menyatakan Wudhu dan shalat adalah terapi saraf yang terbaik, puasa  adalah cara terbaik untuk penyembuhan gangguan pencernaan, dan banyak lagi. Ini bukti bahwa Al-Quran mudah untuk di pelajari. 

Betapa ruginya kita, jika tidak mau mempelajarinya dengan sungguh-sunguh. Betapa tidak.... Al-Quran menjadi petunjuk bagi kita dalam menjalani hidup di dunia ini agar selamat di dunia dan menjadi syafaat di akhirat. Masihkah kita mengabaikan hal ini ?

Terimakasih mbak Prima yang telah menyelenggarakan tantangan ini, dimana memaksa saya untuk belajar memahami setiap ayat yang ada di dalam Al-Quran, sebulan sudah melatih diri menulis 1hari 1ayat, berharap setelah ini saya dapat melanjutkannya dihari-hari berikutnya. Ibarat melaksanakan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, setelah Ramadhan mampu melanjutkan melaksanakan puasa sunnah senin, kamis disetiap minggu, dan puasa Ayyamul Bidh setiap bulan hijriah,  begitu juga setelah berlatih selama sebulan menulis 1hari 1 ayat, saya berharap saya masih bisa menulis lagi di hari-hari berikutnya, berharap bisa istiqomah.