Minggu, 06 Oktober 2013

Penerimaan Tanpa Syarat

Bismillahirromanirrohim 

Seorang ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliahnya. Kelas terakhir yang harus beliau ambil adalah Sosiologi. Sang dosen sangat inspiratif. Tugas terakhir yang diberikan ke para mahasiswanya diberi nama "SMILING". Seluruh mahasiswa diminta  untuk pergi keluar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasi reaksi mereka. Setelah itu setiap mahasiswa diminta untuk mempresentasikan di depan kelas.

Ibu dari tiga anak tersebut adalah seorang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Maka ibu tersebut berpikir dia akan mudah melakukannya. 
Setelah menerima tugas tersebut sang ibu bergegas menemui suaminya dan anak bungsunya yang sedang menunggu di tanam di halaman kampus.

Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering, maka  mereka segera meninggalkan kampus, menuju restoran yang letaknya tak begitu jauh dari kampusnya. Sewaktu suaminya akan masuk dalam antrian, sang istri meminta suaminya agar sang suami yang menemani anak bungsu, biarlah dia yang masuk kedalam antrian.

Ketika sang istri sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang disekitar mereka bergerak menyingkir, dan bahkan orang semula antri dibelakangnya ikut menyingkir keluar dari antrian. Perasan panik ikut menguasai diri sang ibu tersebut, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah sang ibu membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang sang ibu berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil.

Ketika sang ibu menunduk, tanpa sengaja mata sang ibu menatap laki-laki yang pendek yang berdiri lebih dekat dengannya, dan ia sedang "tersenyum" dengan sorot mata tajam, tetapi memancarkan kasih sayang kearah sang ibu. Lelaki tersebut menatap sang ibu, dengan sorot mata seolah ia meminta agar sang ibu dapat menerima "kehadirannya".

Lelaki tersebut menyapa "good day !" Sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan di pesan. Secara spontan sang ibu membalas senyumnya, dan seketika teringat dengan tugas yang diberikan oleh dosen beliau.

Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri dibelakang temannya. Sang ibu seketika menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, sang ibu merasa sangat prihatin. 

Karena dalam antrian hanya tinggal dia dengan kedua lelaki dekil itu menjadikan mereka cepat sekali sampai di depan counter. Ketika wanita muda di counter menanyakan pada sang ibu apa yang ia ingin pesan, tapi sang ibu malah mempersilahkan kedua lelaki tersebut untuk memesan duluan.

Lelaki tersebut segera memesan kopi saja, satu cangkir Nona, ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran tersebut, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang tersebut harus membeli sesuatu). Jadi nampaknya kedua laki-laki itu hanya ingin menghangatkan badannya karena udara di luar sangat dingin sekali.

Maka muncul rasa iba sang ibu tersebut, sambil matanya mengikuti langkah kedua laki-laki itu yang sedang mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-tamu lainnya. Pada saat bersamaan semua mata tertuju kepada sang ibu setelah melihat semua tindakan sang ibu.

Sang ibu tersadar setelah petugas di counter itu menyapa sang ibu untuk kesekian kalinya menanyakan apa yang ia pesan. Sang ibu tersenyum dan minta diberikan dua paket makanan dalam nampan yang terpisah. Setelah membayar semua pesanan, lalu ia meminta bantuan petugas lain untuk mengantar nampan pesanannya ke meja suami dan anaknya. Sementara sang ibu membawa nampan lainnya menuju meja kedua laki-laki tadi dan meletakkan nampan berisi makanan di atas mejanya, lalu sang ibu meletakkan telapak tangannya diatas punggung telapak tangan dingin laki-laki itu, sambil berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua"

Kembali mata laki tersebut menatap sang ibu dengan mata basah berkaca-kaca dan dia hanya mampu berkata "terima kasih  banyak, nyonya" sang ibu mencoba tetap menguasai dirinya, sambil menepuk bahu laki-laki itu, dia berucap "sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian".

Mendengar ucapan sang ibu itu, laki-laki tidak kuasa menahan haru dan memeluk temannya sambil terisak-isak. Sang ibu tadi tak dapat menahan tangis sambil berjalan meninggalkan kedua laki-laki tersebut dan bergabung dengan suami dan anaknya. Ketika duduk suaminya mencoba meredakan tangis sang istri sambil tersenyum dan berkata "sekarang saya tahu kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istri ku, yang pasti untuk memberikan "keteduhan" bagi diriku dan anak-anakku". Mereka saling berpegang tangan beberapa saat dan saat itu mereka benar-benar bersyukur dan menyadari bahwa hanya karena "bisikkan -Nya lah mereka mampu memanfaatkan "kesempatan" untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika mereka sedang menyantap makanan, mulai para tamu meninggalkan restoran satu per satu menghampiri meja sang istri dan keluarga untuk sekedar ingin berjabat tangan dengan sang ibu. Salah satu diantaranya, seorang bapak memegang tangan sang ibu dan berucap "tanganmu ini telah memberi pelajaran mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan oleh-Nya, saya akan melakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami"

Sang ibu itu hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran ia sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada "magnit" yang menghubungkan bathin diantara mereka, mereka langsung menoleh kearahnya sambil tersenyum, lalu melambaikan tangannya kearah beliau. Hari ini sang ibu mendapatkan pengalaman yang sangat berharga betapa kasih sayang Tuhan itu sangat hangat dan indah.

Beberapa hari kemudian ia kembali ke college hari terakhir kuliah dengan menyerahkan cerita yang dia alami beberapa hari yang lalu kepada dosennya yang telah memberikan tugas padanya. Keesokkan harinya, sang dosen minta izin untuk membagikan cerita sang ibu kepada Mahasiswa lainnya . Tentu saja sang ibu merasa senang sekali, karena tugasnya bernilai plus bagi sang dosen.

Ketika mata kuliah dimulai, sang dosen membaca "paper" sang ibu dengan gaya khas sang dosen. Para Mahasiswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, semua terbawa dengan perasan haru mereka. 

Di akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat diakhir paper tersebut .

" Tersenyumlah dengan hatimu, dan kau akan mengetahui betapa DASYAT dampak yang di timbul kan oleh senyummu itu"

Dari cerita ini kita dapat mengambil pelajaran bagaimana cara mencintai sesama, dengan memanfaatkan sedikit harta benda yang kita miliki, dan bukannya mencintai harta benda yang bukan miliki kita dengan memanfaatkan sesama 









11 komentar:

  1. Salam kenal ya Bu
    membaca disini, rasanya adeeeeeeemmm
    semoga saya betah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas kunjungannya, dan smg gak bosan berkunjung ke sini
      Salam Kenal kembali, mas

      Hapus
  2. karena hati tidak bisa bohong bu. muka itu bisa berbohong.
    sudah selasai bu s2 nya ? pasti deh bergelut dengan teori krits, marxis, kapitalis, dan habermas dengan hermeneutiksnya,
    heheehe

    BalasHapus
  3. dengan tersenyum, dunia pun akan ikut tersenyum..

    kisah yg mengharukan dan penuh inspirasi.

    BalasHapus
  4. Saya tersenyim membaca ini. Sebelumnya saya sudah pernah membacanya tapi saya lupa dimana media yang melayangkan berita ini. Kesan pertama, hati saya tersentuh. Sungguh mulia hati ibu itu.

    Salam kenal mbak, salam kompak blogger. Mohon maaf bila kurang berkenan. Wa sallam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak, Makasih ya kunjungan ... Salam Kenal

      Hapus
  5. cerita yang sangat inspiratif, terima kasih sudah mau sharing :)

    BalasHapus
  6. dampak dari senyum dan kedermawanan. mengajrkan kita untuk lbeih perduli.

    BalasHapus
  7. rasa solidaritas dan kemanusian yang akan membuat hati ini mudah untuk tersenyum dan ringan membantu sesama ya ?
    Senyum akan berdampak luas !
    Indahnya !

    BalasHapus