Sabtu, 06 Desember 2014

Ujian itu datang

Bismillahirromanirrohim

Hari Sabtu 4 Oktober 2014 adalah hari yang tak akan pernah terlupakan dalam hidup saya. Hari itu melelahkan jiwa saya. Sore itu beberapa menit menjelang Azhar, saya dikagetkan dengan angka yang tak lazim di monitor jantung yang sedang terpasang pada suami, beberapa menit saya mengamati dan mencoba memahaminya, tak lama grafik di monitor itu hilang,  suami saya mengalami serangan jantung ... tak ada tanda jantung berdetak. 

Bunyi alarm dari monitor itu membuat saya dan seisi ruangan itu panik, beberapa suster dan dokter berlarian memberikan pertolongan untuk suami. Suasananya riuh dan menegangkan sekali. Saya hanya mampu berdoa saja dari kejauhan karena tidak mau menggangu mereka yang sedang memberi pertolongan pada suami. Waktu yang sangat panjang saya rasakan yang di lewati seorang diri.

Semua upaya mereka kerahkan untuk menolong suami saya, 30 menit kemudian baru terdengar suara "Alhamdulillah" secara serentak dari suster2 dan dokter. ya Allah , itu bertanda ada detak jantung lagi yang dapat dirasakan mereka. Lega rasanya . Namun itu hanya sesaat .... serangan itu terjadi.... dan terjadi lagi sembari menunggu proses dibawanya ke ruang ICU. 

Masalah muncul lagi karena alat ventilator di ruang ICU di rumah sakit Pertamina, tempat suami sedang dirawat sudah terpakai semua. Kami harus membawa ke rumah sakit lain yang tersedia ventilatornya. Setiap rumah sakit yang di hubungi jawabannya juga sama "semua terpakai". ya Allah, suasana itu semakin menegangkan. 

Alhamdulillah, akhirnya kami mendapatkan ventilator yang diperlukan itu di rumah sakit Sloam. Setelah ada kepastian ventilator itu tersedia, barulah suami dapat dipindahkan ke mobil ambulance menuju rumah sakit Sloam. Sirine mobil ambulance memecahkan kemacetan di jalan raya. Perjalanan yang menegangkan saya rasakan disaat menemani suami di mobil ambulance itu.

Sesampai di ruang UGD RS Sloam suami mengalami peristiwa yang sama ..... serangan jantung berkali-kali terjadi lagi sehingga belum bisa di bawa ke ruang ICU. Jam 21.00 barulah suami dapat dipindahkan keruang ICU. Sesampai di ruang ICU, serangan itu datang lagi hingga jam 24.30...... ventilator baru terpasang jam 01.00 dini hari , setelah 8 kali serangan jantung, sungguh melelahkan sekali yang saya rasakan saat itu.

Jam 03.00 saya baru bisa keluar dari ruang ICU, setelah memastikan tak akan ada serangan lagi. Badan saya rasanya tak bertenaga, lelah.....hati penuh rasa was-was. Hanya berdoa yang bisa saya lakukan. 

Jam 08.00, hari minggu tanggal 5 Oktober, dokter meminta saya dan keluarga menemui beliau untuk mendapatkan informasi tentang keadaan suami saya. Dokter memperlihatkan foto rontgen kepada kami, lalu beliau menjelaskan bahwa terjadi pembesaran otot di jantung suami. Dan kondisi suami saat ini koma, dampak serangan jantung yang berkali-kali, dan terhentinya kerja jantung yang berkali-kali menyebabkan ginjal, paru-paru, otak kehilangan fungsi. Mendengar  penjelasan itu membuat saya terperangah, tubuh kehilangan tenaga, tangis yang tertahan di dada .... menyesakkan sekali..... hanya pasrah yang saya bisa lakukan.

Saya hanya bisa memandangi suami yang terbaring di tempat tidur yang di kelilingi dengan berbagai peralatan, banyak selang yang terhubung di tubuhnya. Saya bersama Yoga mencoba saling menguatkan untuk melewati ujian ini. Doa tak henti-henti kami panjatkan. Hanya keajaiban Allah yang kami harap saat ini. Hanya Allah yang dapat menolong kami. 

Dan dokter  memberitahu, bahwa jika esok hari, tidak juga ada urin yang di produksi dari ginjal suami saya, maka akan dilakukan cuci darah, agar tubuh suami tidak mengalami keracunan., saya hanya bisa pasrah, semuanya saya percayakan pada dokter-dokter yang merawat suami saya, dan saya percaya mereka pasti akan melakukan yang terbaik untuk suami saya. Sementara itu yang bisa saya lakukan hanya terus berdoa dan pasrah akan ketetapan Allah SWT. 

Keesokkan harinya, Senin 6 Oktober di pagi hari setelah melaksanakan shalat Subuh, saya mohon diijnkan untuk diperolehkan mendekati suami yang terbaring koma. Alhamdulillah, saya diperbolehkan mendekat, walau haynya beberapa menit saja, karena belum saatnya saya menemani suami.

Lalu saya membisikkan ke telinga suami saya."Ayah, ...bunda dan Yoga baik-baik saja, Ayah jangan memikirkan kami, kami akan baik-baik saja, Allah akan menjaga kami selalu..... Ayah, Terima kasih  telah menjaga kami, telah membahagiakan kami ..... ayah sudah menjadi suami dan ayah yang baik untuk kami .... terima kasih banyak ayah.... ayah teruslah berdzikir di dalam hati ya, Yah ..... Jika Allah menghendaki kita harus berpisah, kami ikhlas... ayah telah melaksanakan kewajiban dengan baik.....tetaplah semangat ya, Ayah..... bunda dan Yoga selalu menemani ayah di sini, maafkan bunda ya Yah". Hanya itu yang dapat saya ucapkan untuk suami tercinta, tidak tahu harus berbuat apa lagi, sembari mengelus wajah, badan,tangan, kaki yang terasa sangat dingin. 

Sembari memandangi suami yang terbaring tak bergerak, terlintaslah pada pikiran saya...."saya membutuhkan doa dari banyak orang". Maka tanpa sepengetahuan suster saya mengambil foto suami yang terbaring itu dari kejauhan dan kemudin meng-upload foto itu ke FB, berharap akan ada doa-doa yang mengalir untuk suami saya dari orang-orang yang mengenal kami. Saya percaya hanya doa yang dapat membantu kami dan yang dapat mengubah keadaan ini......"Mohon doanya untuk suami tercinta. Mohon dimaafkan kesalahan beliau". Itulah permohon yang saya tulis di wall FB saya dengan meng-upload foto ini.


                                            

Tak lama setelah itu, suster meminta saya meninggalkan suami karena belum saatnya menemani suami. Setelah keluar dari ruang ICU, tangis sayapun tak bisa saya bendung, rasanya hilang sebagian jiwa ini. Saya berdoa semoga keajaiban dari Allah itu segera datang untuk kami.
                 
                                                 

Jam 10.00 pagi itu saya sudah diperbolehkan menemani suami. Sejenak saya terpana memandangi suami dalam tidurnya, suami saya sudah berjuang untuk bertahan, mengapa saya juga tidak berjuang seperti suami telah lakukan, bersemangat menghadapi hari-hari yang berat itu.

Lalu saya menggenggam tangan suami, sambil berbisik ditelinganya. " Ayah..... masih ingat disaat kita tawaf... ayoo, ayah kita ulangi lagi .... Lalu saya mengucapkan kalimat yang pernah kita lafal berdua disaat kami tawaf pada saat menunaikan ibadah haji... saya ingatkan kembali pada suami saya  suasana bahagia itu di saat kami menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu.....semua kejadian saya ulangi lagi walau dibawah kesadarannya... dengan tujuan membangkitkan semangat hidup suami.....Ayo genggam tangan bunda, yah .... saat ini kita sudah di berada di Hajar Aswad, angkat tangan kanan ayah, lambaikan ke kabah ya, Yah....lalu saya bisikkan takbir, dzikir, doa di telinganya ...saya ciptakan suasana sama seperti di saat kami tawaf.... saya ciptakan suasana kami tawaf mengelilingi kabah 7 kali, dan saya tak lupa mengingatkan juga disaat berada di depan pintu Kabah untuk berdoa...semua peristiwa indah itu saya bangkitkan kembali, seperti juga untuk shalat sunnah di Hijril Ismail dan di belakang Maqam Ibrahim. 

Setelah saya selesai, saya bisikkan lagi ...."Ayah, terima kasih banyak, ayah telah mengajak bunda ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, hadiah yang terindah yang ayah berikan untuk bunda, ayah telah melakukan kewajiban ayah dengan baik, terima kasih banyak ya, yah". Kemudian saya lihat air mata ayah mengalir. Saya mencoba menahan tangis haru saya. Saya tak ingin ayah mendengar suara tangis saya, saya ingin ayah tahu bahwa saya kuat dan tegar menghadapi ujian ini, agar beliau tidak sedih memikirkan saya dan Yoga.

Setelah itu saya lanjutkan ... Ayah, sambil menunggu waktu shalat dzuhur tiba, yuk kita baca Al-Quran, ayah simak bunda ya, yah .... bunda baca surah Ar-Rahman dulu, sebagai wujud syukur kita pada Allah, karena begitu banyak nikmat yang Allah berikan pada kita, setelah selesai membaca surah Ar Rahman, saya bisikkan lagi ...Sekarang kita baca surah Al-Waqi'ah, semoga kita diberi rezeki berlimpah sehingga kita diijinkan Allah untuk kembali ke tanah suci ini lagi ya, Yah". Lalu setiap melanjutkan membaca ayat - ayat Al-Quran selalu saya beritahu terlebih dahulu surah apa yang akan saya baca, meminta menyimaknya.

Saya tak tahu harus bagaimana, harus berbuat apa, saya hanya mencoba membangun semangat pada suami dan pada diri saya sendiri. Saat  waktu shalat Dzuhur tiba, saya pamit pada suami..."Ayah sudah saatnya shalat Dzuhur, ayo kita shalat, bunda pamit shalat di luar ya, Yah"

Setelah shalat dzuhur, saya merebahkan diri untuk istirahat, hari-hari yang berat yang saya jalani. Alhamdulillah RS Sloam menyediakan ruang tunggu untuk keluarga pasein di ICU yang cukup nyaman. Cukuplah untuk merebahkan diri untuk istirahat sejenak.

                                                    

Inilah bagian ruang tunggu yang menjadi tempat istirahat saya selama 1 bulan menemani suami di ICU, bagian ini yang memberikan kenyamanan selama menemani suami yang sedang di rawat di ruang ICU. Bagian ini sudah seperti rumah sendiri bagi saya, laci- laci di bawah bangku ini saya manfaatkan untuk menyimpan keperluan saya, karena selama sebulan itu pulalah saya tidak pernah pulang kerumah, saya tidak mau meninggalkan suami walaupun sekejap saja. Rasa lelah itu tidak saya rasakan, yang ada dipikiran saya hanyalah terus menemani suami.

Hari - hari saya lewati dengan terus membangun semangat, saya menyemangati diri sendiri dengan mengatakan "Allah sedang memberikan hadiah untuk keluarga saya ,maka tak ada alasan saya untuk sedih" Walau tak mudah untuk membangun semangat itu, tapi saya terus berjuang menyemangati diri sendiri, menyemangati Yoga. 

Disetiap shalat baik yang shalat fardu maupun shalat sunnah  saya selalu berdoa "Ya, Allah jadikan rasa sakit ini sebagai penggugur dosa-dosanya, sebagai pahala baginya dan angkatlah semua dosa-dosa suami hamba dan kami sekeluarga, tinggikan derajat suami hamba di mata-Mu ya Rabb,muliakanlah dia di dunia dan muliakanlah dia di akhirat nanti, berikanlah yang terbaik untuk suami dan kami sekeluarga, bila kami masih di beri waktu untuk beribadah bersama-sama, mudahkanlah ya Rabb, angkatlah semua penyakit ini, namun bila kami memang harus berpisah, mudahkan juga ya Rabb dan jadikanlah Khusnul Khatimah di penutup usianya, kami hamba-Mu, kami Ridho akan ketetapan-Mu ya Rabb, Karena yang Engkau berikan pasti yang terbaik untuk kami". Hanya doa yang memberikan kekuatan pada kami sekeluarga untuk melewati hari-hari berat itu.

Syukur Alhamdulillah, doa-doa dari orang tua, kakak-kakak, adik-adik, keponakan, sahabat-sahabat , teman-teman, murid-murid selalu dipanjatkan untuk suami dan saya beserta Yoga.Inilah yang menambah kekuatan kami menjalani hari-hari berat itu. 

Keesokkan harinya, Alhamdulillah, satu keajaiban datang ......ginjal mulai berfungsi sehingga tidak harus cuci darah, seperti yang diperkirakan dokter.  Dan setiap bangun di pagi hari saya terus berharap datang lagi keajaiban-keajaiban itu. Dan harapan itu tak pernah padam di hati saya. 

               

Puji syukur Alhamdulillah, Allah terus mendatangkan keajaiaban itu setiap hari, perlahan-lahan semua organ -organ berfungsi kembali, tingkat kesadaran suami naik dari level 3 menjadi level 5, ini tanda membaik. Alhamdulillah, keajaiban itu terus datang.

Hari - hari  itu saya lewati dengan optimis dan tidak ingin melewati dengan mengeluh, karena saya percaya Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kami. Tidak ada alasan saya untuk patah semangat... Allah telah mudahkan kami menjalani ini semua... Kakak2, adik2, ponakan2 , sahabat2 yg menyayangi kami senantiasa menyemangati..mendoakan kami... segenap tenaganya membantu kami....rasa syukur yang tak terhingga saya rasakan, hanya ungkapan rasa terima kasih yang dapat saya berikan, tak mampu membalas semua kebaikan-kebaikan itu.... Ya Rabb, berikanlah pahala yg berlipatganda untuk mereka semua sebagai  balasan atas kebaikan2 mereka semua 

Alhamdulillah , setiap hari keajaiban selalu saja datang, kondisi suami semakin menggembirakan para dokter yang merawat suami saya  dan terutama saya dan Yoga lebih merasa gembira lagi dan bersyukur pada Allah SWT, semakin besar harapan kami akan kesembuhan beliau. 

Tanggal 15 Oktober 2014 harus dilakukan Trakeostomi yaitu pembuatan lubang di tenggorok, karena  memudahkan saluran pernapasan, operasi itu membuat dokter juga was-was, karena ritme jantung suami tidak stabil, tetapi Trakeostomi itu harus dilakukan, lagi-lagi hanya terus berdoa dan pasrah yang bisa saya lakukan. Dan saya harus menandatangi pernyataan bersedia menanggung resiko yang akan terjadi kelak. Alhamdulillah, operasi berjalan lancar, resiko yang diperkirakan tidak terjadi, lagi-lagi keajaiban Allah berikan pada kami.

Tanggal 22 Oktober keajaiban itu datang lagi, suami tidak lagi bergantung dengan ventilator, sudah bisa dilatih dengan nafasnya sendiri, ini menandakan paru-paru berfungsi maksimal, ini kabar baik untuk kami semua. Alhamdulillah, Allah berikan lagi keajaiban itu.

Tanggal 24 Oktober, ayah bisa memandang kami dan tersenyum, walaupun tak bisa berbicara, itu saja sangat mengharukan kami, meskipun itu hanya beberapa menit. Bagi kami ini menandakan tinggkat kesadaran ayah meningkat. 

Tanggal 28 Oktober, dokter memberi kabar gembira, bahwa suami sudah akan di pindahkan di ruang rawat inap biasa di lantai 6, karena keadaan sudah sangat membaik, tidak lagi bergantung dengan alat-alat di ICU dan agar lebih sering kontak dengan keluarga dan orang -orang banyak, untuk memulihkan kesadaran beliau dan dijadwalkan untuk CT Scan melihat kerusakkan yang terjadi di otak. Karena organ lain sudah pulih, tinggal terapi kesadaran saja lagi. Saya dan Yoga bahagia sekali mendengar kabar itu, kami antusias sekali menunggu kepindahan suami dari ICU ke ruang rawat inap. Rasa syukur yang tak henti-hentinya saya panjatkan pada Allah, atas anugrah ini. Hilang sudah ras lelah, perasaan tegang, dan rasa was-was.

Esok harinya kegembiraan itu juga dirasakan oleh kakak - kakak dan teman-teman, karena suami sudah bisa tersenyum setiap tamu yang menyapanya. Semakin besar harapan kami akan kesembuhan beliau.

Tapi kegembiraan itu hanya sebentar, Jam 10 pagi di hari Jum'at  tanggal 30 Oktober 2014 setelah saya shalat dhuha saya kaget melihat suami gelisah kembali, saya hampiri .... ya ampun badannya panas sekali, dan beberapa detik kemudian muntah-muntah. Sejak saat itu panasnya selalu tinggi 40 C hingga dini hari di hari Sabtu. Tepat jam 24.30, suami harus segera di bawa kembali ke ruang ICU, karena menurunnya kesadaran serta tekanan darah beliau yang hanya 50/28, hingga subuh keadaan itu tidak ada perubahan, barulah saya kabari keluarga dan kerabat lain, bahwa kondisi suami kritis. 

Saya tidak tahu harus berbuat apa, saya hanya mencoba untuk kuat, menemaninya sambil melantunkan ayat-ayat Al-Quran di telinganya, sambil menggenggam erat tangannya, agar suami tahu bahwa saya selalu ada disisinya. Dan jam 04.50 saya pamit untuk melaksanakan shalat Subuh. Dan setelah itu saya tidak diperolehkan masuk ke ruang ICU karena suster sedang memandikan  pasein yang ada di ruang ICU itu.

Jam 06.30 saya diminta untuk masuk keruang ICU, ada perasaan was-was di hati ini, setiba saya di depan pintu, saya melihat suami saya sedang di kelilingi dengan tim ICU, dan alat pacu jantung sudah siap tersedia di samping suami saya, ya Allah, ini bertanda buruk. 

Ya Allah, bila ini saat kami dipisahkan ....mudahkan ya Rabb, ambillah dia dalam keadaan Husnul Khatimah, hanya itu doa yang saya panjatkan pada Allah. 
Dokter memberi jeda pertolongan hingga jam 07.45, lalu dokter menjelaskan keadaan yang sebenarnya, bahwa kondisinya sangat buruk, lalu meminta saya agar menginjinkan tim ICU untuk menghentikan pacuan jantung itu, karena tidak akan menghasilkan apa-apa.

Saya pasrah, lalu saya mengabulkan permintaan itu, dan saya mendekati suami saya, memeluknya, menciumnya, sambil berbisik di telinganya ...."maafkan bunda ya yah, jika ini saatnya ayah harus pergi,  bunda ihklas, terima kasih banyak ayah... sudah menjaga kami, membahagiakan kami, maafkan  semua kesalahan bunda, semua kekurangan bunda selama ini, ayah pergilah dengan terus berdzikir didalam hati ayah, teruslah mengingat Allah ya, yah....jangan pikirkan bunda dan yoga....kami akan baik-baik saja, tugas ayah sudah selesai dan Allah yang terus menjaga kami"

Setelah itu saya terus membisikkan  Allah... Allah...Allah...Laa Illaha illalaah, ditelinganya sambil menahan tangis, saya tidak ingin dia mendengar suara tangis saya. Tepat jam 07.55 hari Sabtu 1 November 2014, Allah memisahkan kami.... akhirnya ajal yang memisahkan kami. Ayah pergi dengan tersenyum. Rasanya seperti dalam mimpi yang saya rasakan saat itu. Kami tidak mengira Ayah pergi secepat itu. Tapi ini ketetapan Allah yang harus kami terima dengan ikhlas dan tabah, bagi Allah ini yang terbaik bagi kami, walau berat rasanya, kami harus menerimanya.

Ya Allah, ampuni dosa - dosanya, terima amal ibadahnya, lapangkan kuburnya, lindungilah dia dari siksa kubur dan siksa api neraka, muliakanlah dia di alam sana, tinggikan derajatnya di Surga-Mu ya Rabb, tempatkalah di tempat yang mulia di sisi-Mu ya Allah. Dengan keagungan Rahmat-Mu ya Rabb, masukkanlah dia ke dalam surga-Mu melalui pintu mana saja. Aamiin 

Inilah tempat peristirahatan ayah, semoga ayah bahagia disana. Doa-doa kami selalu mengalir untuk ayah.