Selasa, 10 Januari 2012

Mempertahankan Impian


Bismillahirrohmanirrohiim.

Seorang anak yang bernama  Garry yang merupakan anak dari seorang pelatih kuda yang sangat miskin. Sang ayah dalam pekerjaan sehari-harinya melatih kuda-kuda di tiap peternakan. Karena tidak mempunyai pekerjaan yang pasti dan rumah, terpaksalah mereka hidup berpindah dari satu tempat ketempat yang lain, dari satu peternakan ke peternakan yang lain, sehingga Garry pun ikut berpindah –pindah sekolah karena mengikuti sang ayah.

Pada suatu hari Garry mendapat tugas dari sang guru untuk membuat sebuah karangan. Dengan sangat antusias Garry mulai mengerjakan karangan itu menjadi 7 halamanan. Dalam karangan Garry menceritakan secara terperinci mengenai perternakan kuda, Garry terobsesi sekali mempunyai impian untuk memiliki peternakan kuda dengan luas 500 hektar dan terdapat rumah seluas  3000 m2. Peternakan kuda tersebut di lengkapi dengan trak lintasan kuda, arena bertanding, kandang kuda. Semua digambarkan sangat jelas dan detail oleh Garry dalam karangan tersebut. Karangan itu akhirnya selesai dikerjakan Garry dan diserahkanlah pada sang guru. 

Beberapa hari kemudian semua karangan siswa-siswa dikelas Garry dikembalikan oleh sang guru, termasuk karangan Garry….tetapi terlihat wajah sedih dan kecewa terpancar di wajah Garry berbeda sekali disaat dia mengumpulkan karangan tersebut beberapa hari yang lalu, apa yang menyebabkan Garry kecewa ….??

Ternyata karangan Garry hanya di nilai F  oleh sang guru. Merasa tidak puas dengan nilai yang dia dapatkan, Garry menanyakan hal itu pada sang guru. Tetapi Garry lebih kecewa lagi menerima penjelasan dari sang guru. Sang guru mengatakan impian Garry yang ada dalam karangan tersebut tidak masuk akal, semuanya terlalu terlalu tinggi untuk seusia Garry, karena Garry adalah seorang anak pelatih kuda yang miskin, mana mungkin bisa mewujudkan semua impian tersebut.

Bagi sang guru, Garry tidak akan mungkin bisa memiliki peternakan dan rumah yang sangat luas itu. Karena untuk memilki itu semua memerlukan biaya sangat besar sekali. Sementara sat ini dia hanya menumpang pada pemilik peternakan kuda yang kuda-kudanya dilatih oleh sang ayah.

Karena nilai karangan Garry F, maka Garry diminta untuk memperbaiki karangan dengan menuliskan keinginan yang masuk akal, perintah sang guru.
Garry bingung apakah dia harus merubah semua karangannya….?? Dalam kebingungannya Garry minta pendapat sang ayah mengenai karangannya. Dengan bijak sang ayah berkata…” Garry ini semua terserahmu, nak …karena ini menyangkut masa depanmu, engkau sendirilah yang bisa menentukan hidupmu.

Beberapa hari kemudian, akhirnya Garry tetap mengumpulkan karangan tersebut dengan tidak berubah sedikitpun karangan yang telah ia buat. Garry hanya menulis sebuah kalimat : Guru, engkau boleh menyimpan nilai F tersebut, tapi aku akan tetap menyimpan impian ini “

Puluhan tahun telah berlalu sejak kejadian itu.  Garry yang sudah dewasa itu, bercerita  kepada grupnya, saya bercerita seperti ini kepada kalian karena guru saya tersebut duduk dilahan peternakan kuda saya 500 hektar dan masuk kedalam rumah saya seluas 3000 m2. Dan karangan tersebut masih saya simpan hingga sekarang bahkan saya bingkai dan tetap bertuliskan huruf F untuk nilainya.

Pada suatu hari sang guru datang kerumah Garry bersama siswa-siswanya untuk melihat peternakan kuda  Garry. Dan pada saat itu sang guru mengatakan pada Garry:  “Garry, sekarang saya bisa katakan kepadamu, pada saat saya menjadi gurumu, saya telah menjadi orang yang mencuri impian banyak dari siswa-siswa saya, termasuk dirimu, tetapi kamu sungguh luar biasa untuk mempertahankan impianmu tersebut”.

Dari pengalaman itulah sang guru tak mau lagi melakukan hal yang sama, dia terus memotivasi siswa-siswanya, termasuk mengunjungi peternakan kuda Garry, agar menjadi inspirasi bagi siswa-siswanya.


15 komentar:

  1. Bagi saya siapapun orang itu tak akan membiarkan orang² itu untuk mengubah mimpi saya walau hanya sedikitpun.hehehe...

    BalasHapus
  2. Cerita yang sangat inspiratif Mbak, khas Bu Guru. Aku suka sekali ;)

    TFS yaa...

    BalasHapus
  3. Sangat setuju dengan pendapat Garry Mba, tidak akan terpengaruh dengan yang lain untuk mencuri impiannya walau apapun yang terjadi.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah's Blog

    BalasHapus
  4. cerita yang begitu menginspirasi mbak..suka aku..sungguh1 bahkan ga hanya guru aja mbak, ortu pun sebaiknya jangan mencuri impian anak2nya..:?)

    BalasHapus
  5. Uni..... ternyata impianku belum terperinci dengan jelas... semoga impian ku selanjutanya lebih rinci dan lebih jelas.... terimakasih Uni..

    BalasHapus
  6. kalau aku lebih suka mengejar impian setalh itu aku membuat impian baru lagi,karena manusia tidak hanya bisa hidup dengan satu impian saja
    artikel bagus mba :)

    BalasHapus
  7. hebat yaa.. nilai tidak menghalangi seseorang untuk mewujudkan impian-impiannya..

    ah, tapi bukan berarti ini dijadikan justifikasi bahwa nilai jelek itu nggak apa-apa loh ya

    BalasHapus
  8. tidak ada satupun orang di dunia ini yg menghalangi untuk mewujudkan semua impian dan cita2nya..
    sangat menginspirasi sekali mba..
    salam persahabatan :)

    BalasHapus
  9. Salut buat Gary...
    Guru seharusnya tidak mengecewakan impian muridnya.

    BalasHapus
  10. kisah nyata bukan mb?
    terkadang perkataan yang sedikit bisa mempengaruhi jalan hidup orang lain, syukur garry mpertahankan impiannya
    =)

    BalasHapus
  11. keren...
    banyak hal yang bisa aku contoh dari cerita ini...

    BalasHapus
  12. blogwalking here
    folback my blog yaa!

    BalasHapus
  13. impian anak2 masih polos,asal mau tekun berusaha dan berdoa bahkan pintu langitpun akan terbuka .....sangat menginspiratif ceritanya....:)

    BalasHapus
  14. guru seharusnya bukan menjadi pencuri impian tetapi mendukung dan mengembangkan impian anak didiknya.. :D

    cerita yagn inspiratif bu :)

    BalasHapus