Selasa, 15 Oktober 2013

Lepaskanlah untuk meraih yang terbaik

Bismilahirromanirrohiim

Kita sering melihat dalam kehidupan ini, masih banyak orang terikat dengan kekayaan, ketenaran, status sosial dan kenikmatan duniawi lainnya. Bagi mereka itu semua membuat mereka merasa "hidup". Bila mereka kehilangan itu semua membuat mereka tidak bisa hidup. Tak jarang inilah yang menyebabkan hidup mereka dalam keadaaan stres dan takut kehilangan semuanya.

Hari ini 10 dzulhijah, semua umat Islam di dunia sedang merayakan Hari Raya Idul Adha dan sebagian masyarakat mengenalnya dengan Hari Raya Qurban, dimana  Allah memerintahkan kita untuk penyembelihan hewan kurban seperti yang terdapat di dalam firman-Nya pada surah Al Hajj (22) ayat 34:



34. Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),

Pada setiap tanggal tersebut semua umat Islam melaksanakan penyembelihan hewan qurban, ini seperti yang dilakukan oleh Nabi kita Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anak yang sangat dicintai. Mengorbankan sesuatu yang sangat kita cintai adalah sangatlah tidak mudah untuk dilakukan.

Nabi Ibrahim memberikan kepada kita semua sebuah ketauladanan bahwa "Cinta pada Allah" adalah diatas segala-galanya. Anak sangat ia cintai, namun Beliau ihklas melepaskannya, karena Allah "memerintahkannya" untuk menyembelih anak sangat ia cintai,  bagi kita yang awam sungguh tak masuk akal harus menyembelih anak sendiri. Tapi Allah memiliki rahasia tersendiri di balik "perintah" itu. Apakah yang di inginkan Allah di balik perintah-Nya tersebut.... Yaa sebuah "ketaatan / ketaqwaan". Dibalik keikhlasan Nabi Ibrahim "melepaskan" yang sangat dicintai, Allah memberikan "Kemulian" pada Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail.

Hari ini saya juga mendapatkan ketauladanan dari seorang bapak penarik becak, hari ini beliau telah berkorban dengan seekor sapi dan seekor kambing. Beliau dengan ihklas "melepaskan" sesuatu yang berharga miliknya yang telah ia kumpulkan puluhan tahun dari setiap tetes keringat disaat mengayuh becaknya. Sungguh pembelajaran berharga bagi kita semua, untuk  berkorban tidaklah lagi dengan syarat "bagi yang mampu" tapi menjadi "bagi yang mau". Bila kita mau melakukannya, maka Allah "pasti" beri kemudahan untuk kita melakukannya. Yang perlu kita latih dari diri kita adalah untuk ikhlas "melepaskan" sesuatu yang sangat kita cintai.

Kemaren sore saya mendapatkan pembelajaran berharga juga bagaimana "melepaskan sesuatu demi meraih yang terbaik", disebuah tayangan televisi disajikan bagaimana artis komedian Aziz Gagap dan Akri dengan ikhlas melepaskan kehidupan yang mewah layaknya selebriti. Mereka lebih memilih "kesederhanaan" dalam kesehariannya. Melepaskan kemewahan duniawi demi meraih kemewahan akhirat.

Aziz Gagap lebih memilih berinvestasi akhirat dari pada duniawi, Dia lebih memilih mendirikan pondok pesantren untuk rakyat miskin dari pada mendirikan "rumah mewah atau apertemen mewah" lebih memilih ternak sapi, kambing, ikan, lobster dari pada ternak "mobil antik atau mobil mewah". Dengan berternak sapi, kambing, ikan, lobster maka dia telah menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa sekitarnya, sehingga mengurangi urbanisasi, sungguh mulia yang ia lakukan. Tidak perlu mengumbar janji akan mensejahterakan rakyat seperti janji para politikus. Aziz telah memulainya dengan hal yang kecil dan sederhana tapi memberikan dampak yang luar biasa.

Komedian Akri juga memilih hidup sederhana disebuah desa, hidup dalam rumah yang sederhana juga, padahal dia mampu membeli lebih dari yang dia miliki sekarang. Lebih memilih melakukan pencerahan kepada masyarakat dari pada mengajak "party" bersama teman-temannya. Lebih memilih menjadi ustad yang sederhana disebuah desa, dari pada jadi ustad kondang di kota metropolitan. Masyaallah.... semoga menjadi "inspirasi" bagi kita semua.

Saya membayangkan jika saja mereka yang diberikan Allah rezeki yang berlimpah-limpah, memiliki pemikiran seperti Aziz tentu kesenjangan ekonomi tidak begitu menyolok mata kita. Tidak ada lagi yang "pamer" barang-barang mewah dalam tampilan mereka. 

Kalau dipikir-pikir sepertinya mereka itu apa lagi dilanda krisis percaya diri ya...? Kenapa mereka baru "pede" jika mereka ditemani barang-barang mewah ya?. Merasa nggak yakin dengan diri sendiri, berpikir akan terlihat berharga bila barang-barang mewah ikut menyertainya. Padahal dari kesederhaan itulah yang akan memancarkan keistimewaan. 

Dan seandainya moment 10 dzulhijah itu terjadi disetiap hari, maka tidak akan lagi terdengar tangis anak sakit yang tidak mampu berobat, tak ada lagi wajah murung anak-anak miskin disaat melihat teman-temannya bersekolah, tidak ada lagi sebuah keluarga yang tidurnya beratap emperen toko atau hidup dalam gerobak.

Moment 10 dzulhijah memberikan kita pembelajaran agar setiap saat kita selalu "ikhlas melepaskan" yang kita sangat sayangi. Jika saja kita belajar "let go" atau melepaskan, jiwa kita tidak terikat oleh semua kenikmatan duniawi. Kita sadar bahwa semua itu hanya "titipan" sementara, kita bersyukur dan menghargainya, tetapi tidak boleh "melekat" dengannya. Dengan demikian, hidup kita pasti akan terasa lebih bahagia dan nikmat.

Semoga tak ada lagi sentilan seperti ini....








30 komentar:

  1. subahanalloh, ternyata mengaplikasikan ketaatan diri terhadap perintah Alloh Ta'ala dan keikhlasan mengorbankan apa yang kita cintai sebagai mana diajarkan nabi Ibrahim as dan Ismail as bukan perkara mudah karena setiap orang seringkali terkungkung belenggu hawa nafsunya, Membutuhkan latihan-latihan kecil untuk memulainya untuk melakukan pengorbanan yang lebih besar dalam rangka mencari ridho Alloh Ta'ala.
    Terima kasih atas artikel indahnya Mbak Sukma

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas.... saya dan yg lain perlu melatih diri dari hal2 yg kecil, dan lama2 menjadi terbiasa dan pada akhirnya menjadi "kebutuhan" jiwa kita, semoga kita di kuatkan dlm niat kita ya, mas.
      sama-sama, mas..... ini utk menginspirasikan diri saya sendiri, mas..... mudah2an menginspirasikan yg membaca artikel sederhana ini juga, mas

      Hapus
  2. Nice Post mba., SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA yah.,
    memang semua itu tergantung dari Niat kita, Jika kita sudah emmpunyai Niat dan Tekad yang kuat untuk berkurban, Insya Allah , akan diberikan jalan untuk berkurban.,
    Kunjungan Pertama mba.,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih ya mas kunjungannya.
      Benar banget .... Niat.... kita manusia merancang dengan cita2....Tapi Allah mewujudkan dengan Cinta-Nya.

      Hapus
  3. Saya sependapat dengan Mas Kevin. Dari NIAT itu pula tercermin semangat dan cita cita yang kuat untuk mewujudkkannya. Informasi yang indah dan banyak manfaat sekalgus memberikan pencerahan buat saya hari ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Asep, makasih ya kunjungannya dan responnya.
      Alhamdulillah ..... tulisan sederhana ini dpt memberikan manfaat dan smg menginspirasikan banyak orang terutama utk diri saya sendiri.
      Semoga kita kedepan menjadi lebih baik .... lebih bertaqwa .... Aamiin

      Hapus
    2. katanya sih dari niat saja sudah dapat pahala.

      Hapus
  4. selamat hari raya idul adha
    mohon maaf lahir dan bathin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 mad....selamat hari raya idul adha
      mohon maaf lahir dan bathin :)

      Hapus
  5. saya turut belajar dari beliau. belajar ikhlas hanya memandang segala sesuatunya untuk mendapatkan ridho Allah, insya Allah bisa.
    buat bu sukma sendiri semoga sehat dan lancar segala aktivitasnya

    BalasHapus
  6. berqurban merupakan bukti cinta kita kepada Allah.

    BalasHapus
  7. Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha, bila ada salah kata dan khilaf atas prilaku selama ini, serta bila ada salah baca atau salah dalam berkomentar, atau belum sempat membalas komentar, dari lubuk hati yang paling dalam saya mohon dimaafkan lahir dan batin...salam

    BalasHapus
  8. keridhaan Allah adalah yang terpenting kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar banget...
      btw ini sama ya dgn mas HP Yitno

      Hapus
  9. Ikhlas berqurban karena kecintaan kepada Allah Swt.
    Terima kasih reungannya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakde....makasih kunjungannya
      Salam hangat juga dari Balikpapan..... Gak kangen Pakde dgn kota Balikpapan ^_^

      Hapus
  10. nice post Mbak... Alhamdulillah kita bisa memetik pelajaran berharga dari Aziz Gagap dan Akri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak Rita.....makasih ya kunjungannya.
      iya mbak .... banyak cara dan sumber bagi kita utk belajar

      Hapus
  11. Saya kadang prihatin dengan yan ngaku-ngaku ustad atau ustad karbitan. Gaya bicaranya fasih banget. Tapi kehidupannya glamor, suka pamer kemewahan di tv. Apa dia tidak mikir umatnya hidup dalam kemiskinan. Ustad itu bisa hidup kan dari sumbangan kotak amal jariah saat dia ceramah.
    Jarang ustad atau kyai yang mau membuka lapangan kerja. Umumnya seh umat hanya disuruh sodaqoh dan sodaqoh :)
    Untuk bisa sodaqoh kan seharusnya umat di kerjakan dulu biar ekonominya mapan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mas..... saya sering merasa miris jadinya mereka yg bertanggung jawab memberikan ketauladanan tapi tdk mereka lakukan spt yg sering ceramahkan

      Hapus
  12. melepaskan sesuatu yang kitya cintai itu memang sulit rasanya. Karena pada dasarnya sifat manusia itu pelit, betul kagak ya ?

    BalasHapus
  13. berkurban sudah liwat dan semoga menjadi pelajaran buat kita kedepan

    BalasHapus
    Balasan
    1. berkurban dalam keseharian sebagai wujud rasa suykur kita pada - Nya.

      Hapus
  14. kalau kaum muslim kaya rela dan sadar bahwa sebagian hartanya adalah hak orang lain, niscaya Indonesia tak akan ada yang miskin ya Bund.
    apalagi artis, mereka sangat mudah mendapatkan uang, misal penyayi, sekali konser bisa mengantongi puluhan juta rupiah...

    Semoga Alloh membukakan mata hati kita untuk lebih peduli dengan sesama, tidak meninggalkan esensi qurban walau idul adha sudah lama lewat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Semoga bangsa yg besar semakin berempati dgn sesama, mbak ...
      kita mulai dr diri kita... keluarga kita .... kita sebarkan VIRUS berbagi kepd org2 disekitar kita

      Hapus
  15. Melepaskan sesuatu yang kita punya dan melepaskan sesuatu yg kita cintai dengan tulus ihklas memang bukan lah perkara gampang dan tidak mudah di lakukan oleh semuah orang, perlu niat dan kesiapan yg sungguh-sungguh untuk melakukan itu semua tentunya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar banget....
      makasih ya kunjungannya

      Hapus