Sabtu, 06 Desember 2014

Ujian itu datang

Bismillahirromanirrohim

Hari Sabtu 4 Oktober 2014 adalah hari yang tak akan pernah terlupakan dalam hidup saya. Hari itu melelahkan jiwa saya. Sore itu beberapa menit menjelang Azhar, saya dikagetkan dengan angka yang tak lazim di monitor jantung yang sedang terpasang pada suami, beberapa menit saya mengamati dan mencoba memahaminya, tak lama grafik di monitor itu hilang,  suami saya mengalami serangan jantung ... tak ada tanda jantung berdetak. 

Bunyi alarm dari monitor itu membuat saya dan seisi ruangan itu panik, beberapa suster dan dokter berlarian memberikan pertolongan untuk suami. Suasananya riuh dan menegangkan sekali. Saya hanya mampu berdoa saja dari kejauhan karena tidak mau menggangu mereka yang sedang memberi pertolongan pada suami. Waktu yang sangat panjang saya rasakan yang di lewati seorang diri.

Semua upaya mereka kerahkan untuk menolong suami saya, 30 menit kemudian baru terdengar suara "Alhamdulillah" secara serentak dari suster2 dan dokter. ya Allah , itu bertanda ada detak jantung lagi yang dapat dirasakan mereka. Lega rasanya . Namun itu hanya sesaat .... serangan itu terjadi.... dan terjadi lagi sembari menunggu proses dibawanya ke ruang ICU. 

Masalah muncul lagi karena alat ventilator di ruang ICU di rumah sakit Pertamina, tempat suami sedang dirawat sudah terpakai semua. Kami harus membawa ke rumah sakit lain yang tersedia ventilatornya. Setiap rumah sakit yang di hubungi jawabannya juga sama "semua terpakai". ya Allah, suasana itu semakin menegangkan. 

Alhamdulillah, akhirnya kami mendapatkan ventilator yang diperlukan itu di rumah sakit Sloam. Setelah ada kepastian ventilator itu tersedia, barulah suami dapat dipindahkan ke mobil ambulance menuju rumah sakit Sloam. Sirine mobil ambulance memecahkan kemacetan di jalan raya. Perjalanan yang menegangkan saya rasakan disaat menemani suami di mobil ambulance itu.

Sesampai di ruang UGD RS Sloam suami mengalami peristiwa yang sama ..... serangan jantung berkali-kali terjadi lagi sehingga belum bisa di bawa ke ruang ICU. Jam 21.00 barulah suami dapat dipindahkan keruang ICU. Sesampai di ruang ICU, serangan itu datang lagi hingga jam 24.30...... ventilator baru terpasang jam 01.00 dini hari , setelah 8 kali serangan jantung, sungguh melelahkan sekali yang saya rasakan saat itu.

Jam 03.00 saya baru bisa keluar dari ruang ICU, setelah memastikan tak akan ada serangan lagi. Badan saya rasanya tak bertenaga, lelah.....hati penuh rasa was-was. Hanya berdoa yang bisa saya lakukan. 

Jam 08.00, hari minggu tanggal 5 Oktober, dokter meminta saya dan keluarga menemui beliau untuk mendapatkan informasi tentang keadaan suami saya. Dokter memperlihatkan foto rontgen kepada kami, lalu beliau menjelaskan bahwa terjadi pembesaran otot di jantung suami. Dan kondisi suami saat ini koma, dampak serangan jantung yang berkali-kali, dan terhentinya kerja jantung yang berkali-kali menyebabkan ginjal, paru-paru, otak kehilangan fungsi. Mendengar  penjelasan itu membuat saya terperangah, tubuh kehilangan tenaga, tangis yang tertahan di dada .... menyesakkan sekali..... hanya pasrah yang saya bisa lakukan.

Saya hanya bisa memandangi suami yang terbaring di tempat tidur yang di kelilingi dengan berbagai peralatan, banyak selang yang terhubung di tubuhnya. Saya bersama Yoga mencoba saling menguatkan untuk melewati ujian ini. Doa tak henti-henti kami panjatkan. Hanya keajaiban Allah yang kami harap saat ini. Hanya Allah yang dapat menolong kami. 

Dan dokter  memberitahu, bahwa jika esok hari, tidak juga ada urin yang di produksi dari ginjal suami saya, maka akan dilakukan cuci darah, agar tubuh suami tidak mengalami keracunan., saya hanya bisa pasrah, semuanya saya percayakan pada dokter-dokter yang merawat suami saya, dan saya percaya mereka pasti akan melakukan yang terbaik untuk suami saya. Sementara itu yang bisa saya lakukan hanya terus berdoa dan pasrah akan ketetapan Allah SWT. 

Keesokkan harinya, Senin 6 Oktober di pagi hari setelah melaksanakan shalat Subuh, saya mohon diijnkan untuk diperolehkan mendekati suami yang terbaring koma. Alhamdulillah, saya diperbolehkan mendekat, walau haynya beberapa menit saja, karena belum saatnya saya menemani suami.

Lalu saya membisikkan ke telinga suami saya."Ayah, ...bunda dan Yoga baik-baik saja, Ayah jangan memikirkan kami, kami akan baik-baik saja, Allah akan menjaga kami selalu..... Ayah, Terima kasih  telah menjaga kami, telah membahagiakan kami ..... ayah sudah menjadi suami dan ayah yang baik untuk kami .... terima kasih banyak ayah.... ayah teruslah berdzikir di dalam hati ya, Yah ..... Jika Allah menghendaki kita harus berpisah, kami ikhlas... ayah telah melaksanakan kewajiban dengan baik.....tetaplah semangat ya, Ayah..... bunda dan Yoga selalu menemani ayah di sini, maafkan bunda ya Yah". Hanya itu yang dapat saya ucapkan untuk suami tercinta, tidak tahu harus berbuat apa lagi, sembari mengelus wajah, badan,tangan, kaki yang terasa sangat dingin. 

Sembari memandangi suami yang terbaring tak bergerak, terlintaslah pada pikiran saya...."saya membutuhkan doa dari banyak orang". Maka tanpa sepengetahuan suster saya mengambil foto suami yang terbaring itu dari kejauhan dan kemudin meng-upload foto itu ke FB, berharap akan ada doa-doa yang mengalir untuk suami saya dari orang-orang yang mengenal kami. Saya percaya hanya doa yang dapat membantu kami dan yang dapat mengubah keadaan ini......"Mohon doanya untuk suami tercinta. Mohon dimaafkan kesalahan beliau". Itulah permohon yang saya tulis di wall FB saya dengan meng-upload foto ini.


                                            

Tak lama setelah itu, suster meminta saya meninggalkan suami karena belum saatnya menemani suami. Setelah keluar dari ruang ICU, tangis sayapun tak bisa saya bendung, rasanya hilang sebagian jiwa ini. Saya berdoa semoga keajaiban dari Allah itu segera datang untuk kami.
                 
                                                 

Jam 10.00 pagi itu saya sudah diperbolehkan menemani suami. Sejenak saya terpana memandangi suami dalam tidurnya, suami saya sudah berjuang untuk bertahan, mengapa saya juga tidak berjuang seperti suami telah lakukan, bersemangat menghadapi hari-hari yang berat itu.

Lalu saya menggenggam tangan suami, sambil berbisik ditelinganya. " Ayah..... masih ingat disaat kita tawaf... ayoo, ayah kita ulangi lagi .... Lalu saya mengucapkan kalimat yang pernah kita lafal berdua disaat kami tawaf pada saat menunaikan ibadah haji... saya ingatkan kembali pada suami saya  suasana bahagia itu di saat kami menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu.....semua kejadian saya ulangi lagi walau dibawah kesadarannya... dengan tujuan membangkitkan semangat hidup suami.....Ayo genggam tangan bunda, yah .... saat ini kita sudah di berada di Hajar Aswad, angkat tangan kanan ayah, lambaikan ke kabah ya, Yah....lalu saya bisikkan takbir, dzikir, doa di telinganya ...saya ciptakan suasana sama seperti di saat kami tawaf.... saya ciptakan suasana kami tawaf mengelilingi kabah 7 kali, dan saya tak lupa mengingatkan juga disaat berada di depan pintu Kabah untuk berdoa...semua peristiwa indah itu saya bangkitkan kembali, seperti juga untuk shalat sunnah di Hijril Ismail dan di belakang Maqam Ibrahim. 

Setelah saya selesai, saya bisikkan lagi ...."Ayah, terima kasih banyak, ayah telah mengajak bunda ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, hadiah yang terindah yang ayah berikan untuk bunda, ayah telah melakukan kewajiban ayah dengan baik, terima kasih banyak ya, yah". Kemudian saya lihat air mata ayah mengalir. Saya mencoba menahan tangis haru saya. Saya tak ingin ayah mendengar suara tangis saya, saya ingin ayah tahu bahwa saya kuat dan tegar menghadapi ujian ini, agar beliau tidak sedih memikirkan saya dan Yoga.

Setelah itu saya lanjutkan ... Ayah, sambil menunggu waktu shalat dzuhur tiba, yuk kita baca Al-Quran, ayah simak bunda ya, yah .... bunda baca surah Ar-Rahman dulu, sebagai wujud syukur kita pada Allah, karena begitu banyak nikmat yang Allah berikan pada kita, setelah selesai membaca surah Ar Rahman, saya bisikkan lagi ...Sekarang kita baca surah Al-Waqi'ah, semoga kita diberi rezeki berlimpah sehingga kita diijinkan Allah untuk kembali ke tanah suci ini lagi ya, Yah". Lalu setiap melanjutkan membaca ayat - ayat Al-Quran selalu saya beritahu terlebih dahulu surah apa yang akan saya baca, meminta menyimaknya.

Saya tak tahu harus bagaimana, harus berbuat apa, saya hanya mencoba membangun semangat pada suami dan pada diri saya sendiri. Saat  waktu shalat Dzuhur tiba, saya pamit pada suami..."Ayah sudah saatnya shalat Dzuhur, ayo kita shalat, bunda pamit shalat di luar ya, Yah"

Setelah shalat dzuhur, saya merebahkan diri untuk istirahat, hari-hari yang berat yang saya jalani. Alhamdulillah RS Sloam menyediakan ruang tunggu untuk keluarga pasein di ICU yang cukup nyaman. Cukuplah untuk merebahkan diri untuk istirahat sejenak.

                                                    

Inilah bagian ruang tunggu yang menjadi tempat istirahat saya selama 1 bulan menemani suami di ICU, bagian ini yang memberikan kenyamanan selama menemani suami yang sedang di rawat di ruang ICU. Bagian ini sudah seperti rumah sendiri bagi saya, laci- laci di bawah bangku ini saya manfaatkan untuk menyimpan keperluan saya, karena selama sebulan itu pulalah saya tidak pernah pulang kerumah, saya tidak mau meninggalkan suami walaupun sekejap saja. Rasa lelah itu tidak saya rasakan, yang ada dipikiran saya hanyalah terus menemani suami.

Hari - hari saya lewati dengan terus membangun semangat, saya menyemangati diri sendiri dengan mengatakan "Allah sedang memberikan hadiah untuk keluarga saya ,maka tak ada alasan saya untuk sedih" Walau tak mudah untuk membangun semangat itu, tapi saya terus berjuang menyemangati diri sendiri, menyemangati Yoga. 

Disetiap shalat baik yang shalat fardu maupun shalat sunnah  saya selalu berdoa "Ya, Allah jadikan rasa sakit ini sebagai penggugur dosa-dosanya, sebagai pahala baginya dan angkatlah semua dosa-dosa suami hamba dan kami sekeluarga, tinggikan derajat suami hamba di mata-Mu ya Rabb,muliakanlah dia di dunia dan muliakanlah dia di akhirat nanti, berikanlah yang terbaik untuk suami dan kami sekeluarga, bila kami masih di beri waktu untuk beribadah bersama-sama, mudahkanlah ya Rabb, angkatlah semua penyakit ini, namun bila kami memang harus berpisah, mudahkan juga ya Rabb dan jadikanlah Husnul Khatimah di penutup usianya, kami hamba-Mu, kami Ridho akan ketetapan-Mu ya Rabb, Karena yang Engkau berikan pasti yang terbaik untuk kami". Hanya doa yang memberikan kekuatan pada kami sekeluarga untuk melewati hari-hari berat itu.

Syukur Alhamdulillah, doa-doa dari orang tua, kakak-kakak, adik-adik, keponakan, sahabat-sahabat , teman-teman, murid-murid selalu dipanjatkan untuk suami dan saya beserta Yoga.Inilah yang menambah kekuatan kami menjalani hari-hari berat itu. 

Keesokkan harinya, Alhamdulillah, satu keajaiban datang ......ginjal mulai berfungsi sehingga tidak harus cuci darah, seperti yang diperkirakan dokter.  Dan setiap bangun di pagi hari saya terus berharap datang lagi keajaiban-keajaiban itu. Dan harapan itu tak pernah padam di hati saya. 

               

Puji syukur Alhamdulillah, Allah terus mendatangkan keajaiaban itu setiap hari, perlahan-lahan semua organ -organ berfungsi kembali, tingkat kesadaran suami naik dari level 3 menjadi level 5, ini tanda membaik. Alhamdulillah, keajaiban itu terus datang.

Hari - hari  itu saya lewati dengan optimis dan tidak ingin melewati dengan mengeluh, karena saya percaya Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kami. Tidak ada alasan saya untuk patah semangat... Allah telah mudahkan kami menjalani ini semua... Kakak2, adik2, ponakan2 , sahabat2 yg menyayangi kami senantiasa menyemangati..mendoakan kami... segenap tenaganya membantu kami....rasa syukur yang tak terhingga saya rasakan, hanya ungkapan rasa terima kasih yang dapat saya berikan, tak mampu membalas semua kebaikan-kebaikan itu.... Ya Rabb, berikanlah pahala yg berlipatganda untuk mereka semua sebagai  balasan atas kebaikan2 mereka semua 

Alhamdulillah , setiap hari keajaiban selalu saja datang, kondisi suami semakin menggembirakan para dokter yang merawat suami saya  dan terutama saya dan Yoga lebih merasa gembira lagi dan bersyukur pada Allah SWT, semakin besar harapan kami akan kesembuhan beliau. 

Tanggal 15 Oktober 2014 harus dilakukan Trakeostomi yaitu pembuatan lubang di tenggorok, karena  memudahkan saluran pernapasan, operasi itu membuat dokter juga was-was, karena ritme jantung suami tidak stabil, tetapi Trakeostomi itu harus dilakukan, lagi-lagi hanya terus berdoa dan pasrah yang bisa saya lakukan. Dan saya harus menandatangi pernyataan bersedia menanggung resiko yang akan terjadi kelak. Alhamdulillah, operasi berjalan lancar, resiko yang diperkirakan tidak terjadi, lagi-lagi keajaiban Allah berikan pada kami.

Tanggal 22 Oktober keajaiban itu datang lagi, suami tidak lagi bergantung dengan ventilator, sudah bisa dilatih dengan nafasnya sendiri, ini menandakan paru-paru berfungsi maksimal, ini kabar baik untuk kami semua. Alhamdulillah, Allah berikan lagi keajaiban itu.

Tanggal 24 Oktober, ayah bisa memandang kami dan tersenyum, walaupun tak bisa berbicara, itu saja sangat mengharukan kami, meskipun itu hanya beberapa menit. Bagi kami ini menandakan tinggkat kesadaran ayah meningkat. 

Tanggal 28 Oktober, dokter memberi kabar gembira, bahwa suami sudah akan di pindahkan di ruang rawat inap biasa di lantai 6, karena keadaan sudah sangat membaik, tidak lagi bergantung dengan alat-alat di ICU dan agar lebih sering kontak dengan keluarga dan orang -orang banyak, untuk memulihkan kesadaran beliau dan dijadwalkan untuk CT Scan melihat kerusakkan yang terjadi di otak. Karena organ lain sudah pulih, tinggal terapi kesadaran saja lagi. Saya dan Yoga bahagia sekali mendengar kabar itu, kami antusias sekali menunggu kepindahan suami dari ICU ke ruang rawat inap. Rasa syukur yang tak henti-hentinya saya panjatkan pada Allah, atas anugrah ini. Hilang sudah ras lelah, perasaan tegang, dan rasa was-was.

Esok harinya kegembiraan itu juga dirasakan oleh kakak - kakak dan teman-teman, karena suami sudah bisa tersenyum setiap tamu yang menyapanya. Semakin besar harapan kami akan kesembuhan beliau.

Tapi kegembiraan itu hanya sebentar, Jam 10 pagi di hari Jum'at  tanggal 30 Oktober 2014 setelah saya shalat dhuha saya kaget melihat suami gelisah kembali, saya hampiri .... ya ampun badannya panas sekali, dan beberapa detik kemudian muntah-muntah. Sejak saat itu panasnya selalu tinggi 40 C hingga dini hari di hari Sabtu. Tepat jam 24.30, suami harus segera di bawa kembali ke ruang ICU, karena menurunnya kesadaran serta tekanan darah beliau yang hanya 50/28, hingga subuh keadaan itu tidak ada perubahan, barulah saya kabari keluarga dan kerabat lain, bahwa kondisi suami kritis. 

Saya tidak tahu harus berbuat apa, saya hanya mencoba untuk kuat, menemaninya sambil melantunkan ayat-ayat Al-Quran di telinganya, sambil menggenggam erat tangannya, agar suami tahu bahwa saya selalu ada disisinya. Dan jam 04.50 saya pamit untuk melaksanakan shalat Subuh. Dan setelah itu saya tidak diperolehkan masuk ke ruang ICU karena suster sedang memandikan  pasein yang ada di ruang ICU itu.

Jam 06.30 saya diminta untuk masuk keruang ICU, ada perasaan was-was di hati ini, setiba saya di depan pintu, saya melihat suami saya sedang di kelilingi dengan tim ICU, dan alat pacu jantung sudah siap tersedia di samping suami saya, ya Allah, ini bertanda buruk. 

Ya Allah, bila ini saat kami dipisahkan ....mudahkan ya Rabb, ambillah dia dalam keadaan Husnul Khatimah, hanya itu doa yang saya panjatkan pada Allah. 
Dokter memberi jeda pertolongan hingga jam 07.45, lalu dokter menjelaskan keadaan yang sebenarnya, bahwa kondisinya sangat buruk, lalu meminta saya agar menginjinkan tim ICU untuk menghentikan pacuan jantung itu, karena tidak akan menghasilkan apa-apa.

Saya pasrah, lalu saya mengabulkan permintaan itu, dan saya mendekati suami saya, memeluknya, menciumnya, sambil berbisik di telinganya ...."maafkan bunda ya yah, jika ini saatnya ayah harus pergi,  bunda ihklas, terima kasih banyak ayah... sudah menjaga kami, membahagiakan kami, maafkan  semua kesalahan bunda, semua kekurangan bunda selama ini, ayah pergilah dengan terus berdzikir didalam hati ayah, teruslah mengingat Allah ya, yah....jangan pikirkan bunda dan yoga....kami akan baik-baik saja, tugas ayah sudah selesai dan Allah yang terus menjaga kami"

Setelah itu saya terus membisikkan  Allah... Allah...Allah...Laa Illaha illalaah, ditelinganya sambil menahan tangis, saya tidak ingin dia mendengar suara tangis saya. Tepat jam 07.55 hari Sabtu 1 November 2014, Allah memisahkan kami.... akhirnya ajal yang memisahkan kami. Ayah pergi dengan tersenyum. Rasanya seperti dalam mimpi yang saya rasakan saat itu. Kami tidak mengira Ayah pergi secepat itu. Tapi ini ketetapan Allah yang harus kami terima dengan ikhlas dan tabah, bagi Allah ini yang terbaik bagi kami, walau berat rasanya, kami harus menerimanya.

Ya Allah, ampuni dosa - dosanya, terima amal ibadahnya, lapangkan kuburnya, lindungilah dia dari siksa kubur dan siksa api neraka, muliakanlah dia di alam sana, tinggikan derajatnya di Surga-Mu ya Rabb, tempatkalah di tempat yang mulia di sisi-Mu ya Allah. Dengan keagungan Rahmat-Mu ya Rabb, masukkanlah dia ke dalam surga-Mu melalui pintu mana saja. Aamiin 

Inilah tempat peristirahatan ayah, semoga ayah bahagia disana. Doa-doa kami selalu mengalir untuk ayah.
               




Sabtu, 13 September 2014

Pribadi yang menyejukkan

Bismillahirromanirrohim

Bila kita belum mampu menjadi seperti pohon besar yang dapat menaungi banyak orang, jadilah hamparan rumput hijau yang menyejukkan mata memandang. 

Hidup adalah sebuah perjalanan wisata, kemanapun kita melangkah mengharapkan sesuatu yang indah dan nyaman. Dan di perjalanan itu akan menemukan banyak warna yang dapat kita nikmati, banyak pengalaman hidup yang kita toreh dalam sebuah catatan. 

Di sepanjang perjalanan itu pula akan ada jejak yang tertinggal, kita punya pilihan di saat kita meninggalkan jejak tersebut, apakah jejak itu akan menjadi inspirasi atau menyakiti....tapi yang pasti jejak itu bagaikan ukiran terpahat di sebuah batu yang tak mudah terhapuskan.

Layaknya sebagai wisatawan kita tentu juga berkeinginan menjadi duta wisata, berbagi pengalaman kepada yang lain. Begitu pulalah dalam kita mengisi perjalanan hidup kita ini. Sebagai hamba Allah, kita adalah seorang duta agama, disadari atau tidak, kita akan ikut memberi warna dalam perjalanan hidup seseorang. Pertanyaannya ...... warna apakah yang akan kita berikan.....?

Bila kita meyakini bahwa agama kita adalah Rahmat, maka sebagai pemeluknya hendaknya menjadikan dirinya rahmat bagi sesamanya dan semua ciptaan-Nya. Kehadirannya seperti angin .... tak terlihat tapi terasa kesejukkannya.

Mengapa banyak sekali kita menemukan peristiwa yang saling menyakiti....saling menghujat.... saling membuka aib.....mudah sekali mengkafirkan orang lain..... bukankah kita ini saudara ? 
Bila memang lebih mengerti pada suatu hal, mengapa tidak memberitahunya dengan santun. Apakah kita melupakan cara Rasulullah? Seringnya kita mengatakan bahwa kita cinta Rasul, manakah yang menjadi buktinya.... apakah dengan telah memelihara jenggot sudah cukup jadi bukti bahwa kita telah cinta Rasul, terus kita abaikan cara beliau bertutur kata, cara beliau dalam  berperilaku...?

Untuk membangun pribadi menjadi lebih baik, banyak cara yang dapat kita lakukan, berkumpul dengan orang - orang senantiasa berpikir positif. Alhamdulillah, saya telah bertemu seseorang yang sangat bijak, kesederhanaan beliau mampu menghipnotis banyak orang, dengan ketrampilan beliau menarikan jemari beliau menghasilkan banyak karya yang telah menginspirasikan banyak orang, diantaranya saya sendiri.

Terima kasih Pakde, bukunya sangat bermanfaat sekali, kesederhanaan pakde, kekocakkan pakde terlihat dalam setiap tulisan yang pakde lahirkan itu memberikan pelajaran yang sangat berharga dalam membangun pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.... meninggalkan jejak yang menginspirasikan orang lain 

 
Seperti judulnya buku ini memberikan kesejukkan, sayang sekali kalau tidak membacanya.

Buku ini memberikan inspirasi bagaimana kita mengisi pejalanan hidup kita agar  bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, tetangga, sahabat dan orang lain.
Jika kita meyakini bahwa agama kita adalah rahmat bagi alam semesta, maka seharusnya pemeluknya menjadikan dirinya rahmat bagi sesamanya dan semua penciptaan.

Minggu, 24 Agustus 2014

Buku Beningkan Hati Dengan Al-Quran

Bismillahirromanirrohim

"Pengen menulis dan dibaca banyak orang karena memberi banyak manfaat" .... itu adalah sesuatu keinginan yang pernah terbesit di hati saya beberapa tahun yang lalu, ini berawal disaat saya sedang mencari sesuatu di Google. Dengan kemajuan media saat ini, kita bisa saja mendapatkan informasi dengan mudah, banyak tangan-tangan kreatif yang melahirkan informasi yang kita perlukan disana.

Disetiap saya mencari informasi di Google, selalu saja terselip keinginan untuk ikut berbagi informasi kepada orang lain melalui dunia maya tersebut.....pengen berbagi sesuatu yang bermanfaat, tapi terselip juga suatu keraguan...."bisa nggak yah saya seperti mereka yang terampil sekali menulis?"

Tak lama kemudian saya berkenalan dengan namanya "blog" suatu media yang memberi ruang untuk menulis dan tulisan tersebut dapat dipublikasikan dengan mudah. Dengan pengetahuan "nol besar" saya ikutan membuat blog, semuanya saya lakukan dengan otak-otik sendiri, nggak tau dengan siapa bertanya. 

Ternyata "menulis" itu tidak semudah saya bayangkan, sering banget saya "mati gaya" disaat mulai menuangkan pemikiran saya kedalam tulisan, sempat putus asa juga sih "ah saya nggak bakat nih menulis" ..... akhirnya saya hiatus dalam waktu yang lama banget hampir 2 tahun. 

Alhamdulillah saya punya teman yang sayang sekali pada saya seperti mbak Reni yang dengan sabar membangunkan saya disaat saya tidur lama alias lama tidak membuat artikel baru. Bagi saya beliau adalah orang yang sangat membantu sekali membangun semangat saya untuk menulis. Bagi saya , dia adalah orang yang berhati mulia.... tidak pernah bosan dan jenuh membangunkan saya, sebab saya hiatusnya nggak hanya sekali saja tapi berkali-kali, namun mbak Reni terus saja membangunkan saya ....seperti seorang ibu membangun anaknya untuk berangkat sekolah.....kebayangkan bagaimana kita membangunkan anak-anak kita bangun di pagi hari.... ada kalanya mudah dan ada kalanya susah membangunkannya, tapi kita tidak pernah berhenti untuk membangunkannya..... seperti itulah beliau..... bersyukur sekali saya mengenal beliau, walau belum pernah bertemu langsung. 

Dengan kemampuan yang amat terbatas, saya berusaha menuangkan suatu pemikiran dalam sebuah artikel sederhana, saya hanya punnya modal "menulis dengan hati" sebab saya tidak punya pengetahuan tentang cara menulis yang baik dan tidak punya pengetahuan tentang blog, semua saya lakukan dengan cara saya yang amat sederhana....saya hanya punya kekuatan sebuah niat "ingin berbagi".... itu saja yang saya miliki.

"Ingin berbagi" yang menjadi alasan saya memiliki blog, saya jadikan blog itu sebagai ladang ibadah bagi saya, maka saya menulis mengharapkan Ridho Allah SWT, terselip harapan setiap jari-jemari menari menghasilkan karya sederhana dapat memberi manfaat untuk sesama. Saya tidak begitu memperdulikan rangking blog saya, saya juga tidak mengerti apa itu SEO dan bagaimana memanfaatkannya di blog, yang selama ini saya  lakukan adalah menulis hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan untuk sesama.

Mbak Reni sangat mengenal warna blog yang saya hadirkan, itulah yang menjadikan alasan beliau memaksa saya mengikuti kontes  menulis 1 hari 1 ayat selama 1 bulan. Seperti biasanya saya selalu menolak, apalagi harus menulis setiap hari ..... wow, sesuatu yang belum pernah saya lakukan. Selama ini saya hanya menulis beberapa artikel dalam satu bulan, bahkan sering dalam satu bulan tak satu artikelpun saya tulis. 

Saya menolak tawaran mbak Reni, karena merasa saya belum punya kemampuan seperti para blogger pada umumnya. Lagi-lagi mbak Reni menyemangati saya, bahwa saya "bisa", saya tidak tahu mengapa mbak Reni yakin banget saya bisa menyelesaikan kontes tersebut. Kelembutan beliau meruntuhkan saya, ada akhirnya saya mengikuti kontes tersebut. 

Pengalaman pertama mengikuti kontes dimana harus membuat 31 artikel dengan tema ayat-ayat Al -Quran. Wah ini tantangan luar biasa, karena pemahaman tentang Al-Quran saya miliki minim banget. Meskipun memiliki pemahaman yang minim tersebut, saya berusaha menyelesaikan tantangan itu, dengan menuliskan pengamalan ayat-ayat Al-Quran yang sudah saya lakukan, jadi saya hanya berbagi pengalaman sehari-hari  dalam mengamalkan ayat-ayat Al-Quran dan mengajak yang lain untuk mengamalkan apa-apa yang di perintahkan Allah SWT yang terdapat pada ayat-ayat tersebut.

Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikannya dengan menulis 31 artikel. Bagi saya kejutan banget, saya bisa posting tiap hari.... selama ini nggak pernah saya lakukan. Dan kejutan lagi ternyata postingan saya tentang ayat-ayat Al Quran sebelum mengikuti kontes lumayan banyak juga, itu yang tidak saya sadari, tapi mbak Reni mengetahuinya, beliau jeli banget ya  ^_^

Memiliki artikel dengan tema yang sama lumayan banyak, muncullah ide mbak Reni agar saya membukukannya dengan tujuan agar bisa dibaca oleh banyak orang yang tidak mengenal blog saya.
Ide membukukannya sempat membuat saya ragu.... apa iya ya, artikel-artikel tersebut layak dibukukan. Lagi-lagi saya harus perang dengan diri sendiri, untuk menyakini diri sendiri untuk mengirim naskah tersebut  ke penerbit untuk dibuat menjadi sebuah buku. Alhamdulillah mas Rudi, mbak Reni dan suami menyakinkan saya agar segera mengirim naskah itu ke penerbit, agar bisa di baca oleh banyak orang.

Alhamdulillah, terbitlah buku pertama saya. Saya beri judul buku tersebut Beningkan hati dengan Al-Quran. Sudah 2 minggu buku ini beredar, meskipun masih pada lingkungan terbatas, karena buku tersebut belum dapat ditemukan di toko buku..... Semoga buku ini juga bisa berjejer di rak toko buku di seluruh Indonesia kelak.

Alasan saya memberi judul Beningkan hati dengan Al-Quran, agar kita senantiasa memiliki hati yang bening. Dengan mengamalkannya maka jiwa dan hati menjadi tenang dan bening, sebab kita senantiasa dapat mencegah diri dari sifat sombong, iri dengki, pencela, kufur nikmat-Nya. Itulah harapan saya kepada pembaca buku saya ini, terinspirasi untuk menjadi pribadi yang tawadhu  (rendah hati), peduli pada sesama, semakin giat dalam menjalani ibadahnya.

Sudah dua minggu buku ini terbit, respon pembacanya di luar dugaan saya. Saya tidak membayangkan sebelumnya akan mendapat respon seperti ini. Mereka mengatakan sangat terinspirasi sekali, penyajian yang sederhana, menyentuh, menurut mereka menjadi lebih mudah memahaminya. Beberapa  diantaranya mulai melakukan seperti yang saya tulis di buku tersebut.  

" Isi buku ini sangat menginspirasi dan memotivasi saya dan menjadi acuan untuk mendidik anak-anak kearah lebih baik dan islami"

"Baru ini saya membaca buku yang menceritakan ayat-ayat Al Quran  dengan cara seperti ini.... sederhana mudah di pahami, menyentuh dan isnpiratif....saya tunggu buku berikutnya"

" Saya gemeteran dan nangis membacanya, banyak sekali renungan dan pelajaran yang bisa kita dapat dari buku ini, saya membacanya berkali-kali, dan akan saya amalkan seperti yang disaran buku ini"

Mendapat respon seperti itu membuat saya sangat bahagia dan terharu, apa yang menjadi keinginan saya terbitnya buku tersebut telah dimudahkan Allah SWT. Saya bahagia dan haru, pembaca mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dan mengamalkanya.

Saya menerbit buku ini bukan untuk mendulang rupiah tapi mendulang amal jariah, ingin menghimpun pundi-pundi amal jariah lebih banyak lagi. Saya ingin di sisa usia saya ini dapat memberi manfaat untuk orang banyak, dan menghimpun amal jariah sebanyak-banyaknya sebagai bekal saya menghadap-Nya kelak.

Sinyal " ingin berbagi" ternyata di tangkap juga oleh para pembaca buku saya. Mereka yang telah membaca buku ini,  kembali memesan beberapa buku lagi untuk dibagikan kepada yang lain. Alhamdulillah, para pembaca buku saya ikut menghimpun sebanyak-banyak amal jariahnya dengan berbagi buku ini.....mengamalkan dan berbagi kepada yang lain adalah harapan terbesar saya kepada para pembaca buku ini.

Untuk teman-teman yang belum memiliki buku ini, dapat memesannya langsung kepada saya, karena saat ini buku ini belum ditemukan ditoko buku. 





Senin, 07 Juli 2014

Cermatlah memilih teman

Bismillahirromanirrohim

Disaat kita remaja dulu, orang tua selalu menasehati ; "hati-hati ya nak dalam memilih teman !"
Ternyata kalimat itu terulang kembali, namun dari bibir kita, begitu menjadi orang tua dan memiliki anak remaja, rasa cemas dan rasa was-was di saat anak-anak kita telah memiliki komunitas sendiri, mulai lebih banyak berkumpul dengan teman-temannya tidak lagi seperti di saat dia masih anak-anak dimana lebih banyak bersama orang tua.

Begitu juga yang saya rasakan saat ini, pada anak saya Yoga yang sudah memasuki fase remaja, sudah lebih banyak beraktivitas di luar rumah, sudah lebih sering berkumpul bersama teman-temannya. Selalu saja berpesan padanya untuk berhati-berhati memilih teman. 

Disetiap dia pergi bersama temannya, kadang sering terselip rasa was-was, cemas jika terjebak dalam pergaulan yang tidak baik. Oleh karena itu sebelum pergi, selalu berpesan untuk mengingatkan dia agar berhati - hati memilih teman untuk berkumpul-kumpul dan selalu mengingatkan Yoga untuk tetap shalat tepat waktu, jangan sampai shalatnya tertinggal. Tidak cukup dengan berpesan sebelum pergi saja, disaat waktu shalat tiba, saya selalu BBM atau SMS Yoga mengingatkannya untuk segera melaksanakan shalat. Dan begitu juga selalu mengingatkan saatnya dia sudah harus pulang.

Mengapa kita begitu cemas ? 
Menurut saya, usia remaja dimana remaja lebih berpihak kepada teman akrabnya, sehingga penting sekali remaja tersebut untuk lebih berhati-hati dalam memilih teman, karena teman akrabnya akan memberi pengaruh besar dalam kehidupannya. 

Seperti yang saya temukan dalam kasus pada beberapa remaja saat ini, kasus itu semua berawal dari dia memilih teman, memilih komunitasnya, sering kali mereka berada di tempat yang salah, di waktu yang salah dan bersama dengan orang-orang yang salah. Ibaratnya, berada di tempat pandai besi yang sedang bekerja, jika kita berada di sekitarnya, ada dua kemungkinan yang terjadi, yakni bisa aja sebagian baju kita terbakar karena ada percikan api yang menyambar kita kalaupun tidak terbakar bajunya, paling tidak,  baju kita akan menjadi tidak sedap baunya karena mendapat aroma bakaran api tersebut.

Mengapa kita selalu harus cermat dalam memilih teman, agar kelak di akhirat kita tidak menyesal, seperti yang di firmankan Allah SWT dalam surah Al-Furqon (25) ayat 27 dan 28 :


wayawma ya'adhdhu alzhzhaalimu 'alaa yadayhi yaquulu yaa laytanii ittakhadztu ma'a alrrasuuli sabiilaan 

27. Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya [1065], seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul".

[1065] Menggigit tangan (jari) maksudnya menyesali perbuatannya.




yaa waylataa laytanii lam attakhidz fulaanan khaliilaan 

28. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan [1066] itu teman akrab(ku).

[1066] Yang dimaksud dengan si Fulan, ialah syaitan atau orang yang telah menyesatkannya di dunia.

Agar tidak terjadi penyesalan di akhirat nanti seperti yang difirmankan Allah pada ayat diatas.
Maka sudah seharusnya kita memilih teman dalam pergaulan kita sehari-hari, karena bersama  teman yang baik akan memberi pengaruh yang baik pada diri kita. 

Teman yang baik akan selalu mengingatkan dan mengajak kita pada kebaikan, apalagi mereka yang sudah menjadi teman akrab atau sahabat. Karena kita sangat setia  pada sahabat kita, kita akan selalu mendengarkan apa yang dikatakan sahabat kita dan melakukan ajakan sahabat.

Itulah keuntungannya kita memilih sahabat. Sahabat yang baik adalah sahabat yang dapat membawa kita ke surga, maka dia akan selalu mengingatkan kita jika kita melakukan kelalaian atau kesalahan. Kita telah perintahkan Allah SWT untuk selalu bersama dengan orang-orang yang shaleh, ini kita dapat lihat di surah Al-Kahf (18) ayat 28 :


waishbir nafsaka ma'a alladziina yad'uuna rabbahum bialghadaati waal'asyiyyi yuriiduuna wajhahu walaa ta'du 'aynaaka 'anhum turiidu ziinata alhayaati alddunyaa walaa tuthi' man aghfalnaa qalbahu 'an dzikrinaa waittaba'a hawaahu wakaana amruhu furuthaan 

28. Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Teman atau sahabat yang baik akan selalu mengingatkan kita pada ketaatan kepada Allah SWT, selalu memotivasi kita untuk melakukan kebaikan, seperti senantiasa mendorong kita untuk beribadah lebih baik, memotivasi kita untuk meningkatkan ibadah, senantiasa berbakti kepada orang tua, mengingatkan kita untuk bertutur kata baik dan santun dalam bersikap, selalu mengajak kita untuk meningkatkan amal shaleh.

Maka beruntunglah orang yang telah memiliki sahabat yang baik, dimana dia tahu perangaimu yang nakal, dia tahu kelemahan dan kekuranganmu, dia tahu kamu banyak membuat kesilapan, tetapi dia tetap BERSAHABAT denganmu, dia tegur akan kesalahanmu, karena dia ingin masuk SURGA dengan mu. 

Dia adalah SAHABAT SEJATI mu, yang sangat TULUS menyayangimu, dan yang tidak pernah memanfaatkanmu.....JAGALAH hatinya selalu, jagalah hubungan baik yang sudah terjalin tersebut, janganlah engkau meninggalkan dia, janganlah merasa bosan karena sering diingatkan atau di nasehati, tetaplah bersabar dengan nasehat-nasehatnya itu, seperti perintah Allah di surat Al-Kahf diatas, karena dari 10 orang yang kamu kenal hanya satu orang yang kamu temui orang seperti dia.





Sabtu, 05 Juli 2014

Allah akan tambahkan nikmat-Nya

Bismillahirromanirrohim

Bila kita mencintai seseorang, kita pasti dengan senang hati menghabiskan waktu bersamanya dan selalu ingin berdua dengannya. Lalu bagaimana kecintaan kita pada Allah 

Pernahkah kita ingin hanya selalu bersama-Nya menghabiskan waktu kita, berlama-lama dengan-Nya? 
Bila kita mencintai Allah, maka dengan senang hati kita mengorbankan  sesuatu yang kita sayangi, misalnya kita akan mengorbankan waktu kita dan kenikmatan yang kita miliki, dimana disaat orang - orang lain tertidur lelap dikasur yang empuk, sementara kita bersimpuh bersujud pada-Nya, berdzikir mengagungkan-Nya, itulah sebagian pengorbanan hamba kepada Penciptanya.

Hamba-hamba Allah yang mencintai-Nya akan bangkit dari tidur untuk beribadah pada-Nya dan menginfaqkan sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadanya.




tatajaafaa junuubuhum 'ani almadaaji'i yad'uuna rabbahum khawfan wathama'an wamimmaa razaqnaahum yunfiquuna 

16. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya [1194] dan mereka selalu berdo'a kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. 
( As-Sajdah (32) ayat 16 )

[1194] Maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam. 
Lalu bagaimanakah kecintaan Allah pada hamba-Nya?
Allah akan semakin mencintai hamba-Nya yang mengorbankan waktu dan hartanya, maka Allah akan tambahkan nikmat-Nya dengan menjanjikan surga khusus untuk hamba-Nya yang  istiqomah mengorbankan waktu tidur dimalam hari  untuk melaksanakan shalat Tahajjud, senantiasa bermohon ampunan Allah dengan penuh rasa takutnya akan azab Allah atas dosa-dosa yang menyelimuti dirinya. 

Allah akan menambahkan nikmat-Nya, ketika melihat hamba yang bersujud pada-Nya ditengah malam,  dimana seharusnya dia tidur nyenyak dikasur yang empuk, namun dia bangkit dari tidurnya meninggalkan kenikmatan duniawi dengan penuh harap mendapatkan keni'matan surga milik Allah.

Begitu juga kepada hamba-Nya yang senantiasa bersedekah / berinfaq melepaskan harta yang dicintainya, memberi makan orang miskin, melepaskan hartanya untuk orang-orang dalam kekurangan.

Bagi Allah, pengorbanan ini adalah pengorbanan yang istimewa dari hamba yang mencintai-Nya. Maka Allah menyediakan hadiah yang istimewa untuk hamba-Nya, yakni surga khusus seperti yang difirmankan-Nya dalam surat  As-Sajdah(32) ayat 17;



falaa ta'lamu nafsun maa ukhfiya lahum min qurrati a'yunin jazaa-an bimaa kaanuu ya'maluuna 

17. Tak seorangpun mengetahui berbagai ni'mat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.
 
Orang-orang yang senantiasa sholat malam memiliki surga yang khusus untuk mereka. Dari Abdullah bin Umar dari Nabi SAW bersabda :
" Sesungguhnya di surga ada sebuah ruangan yang mana bagian luarnya dapat dilihat dari dalamnya dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luarnya, Allah menyiapkannya untuk orang yang memberi makan, melembutkan tutur kata, senantiasa mengikuti sholat dan sholat di malam hari ketika manusia tidur lelap". (HR. Thabrani)

Tidakkah kita menginginkan surga yang istimewa itu ?
Untuk itu .... yuk, kita giatkan shalat Tahajjud kita, sedekah/ infaq kita, serta senantiasa menjaga tutur kata dengan tutur kata yang lembut dan santun, apalagi pada saat sekarang bulan istimewa ini yakni bulan Ramadan....bulan penuh ampunan, bulan penuh Rahmat...bulan penuh berkah.  Sayang sekali loh kalau kita sia-siakan kesempatan emas ini.









 

Jumat, 04 Juli 2014

Bermetamorfosis

Bismillahirromanirrohim

"Ahh.... tak usah kamu menasehati saya"
"Jangan sok alim ya kamu sekarang !!"
"Saya tahu bagaimana kamu dulu,  bisa-bisanya kamu menasehati saya sekarang !!"

Pernahkan anda mendengar percakapan seperti ini? 
Beberapa minggu yang lalu, saya mendengar cerita dari suami, bahwa ada pertengkaran kecil yang terjadi diantara jamaah mesjid, ditempat suami saya biasa melakukan shalat, terucaplah kata-kata  demikian dalam pertengkaran kecil itu 

Saya berpikir, adakah seseorang dalam perjalanan hidupnya tidak miliki catatan gelap dalam buku hidupnya ??
Mengapa dengan mudahnya orang membuka kembali catatan gelap itu ?
Sementara, Allah dengan kasih sayang-Nya menutupi aib semua hamba-Nya.

Apakah dalam sejarah hidup, seseorang harus jadi "pahlawan" ?
Bila sesorang dalam perjalanan hidupnya itu melakukan kesalahan dan memiliki catatan buruk haruskah masyarakat menghukum dia seumur hidupnya?. 
Sementara Allah, Tuhan pencipta semua makhluk memberikan ampunan-Nya kepada hamba-Nya yang bertobat. Lalu mana yang lebih buruk dia atau kita yang membuka kembali catatan gelap itu ?
Apa kita sudah cukup bersih menjadi hamba Allah? 

Kita lihat bagaimana janji Allah yang Maha Pengasih, Maha Pengampun kepada hamba-Nya yang bertaubat dan memperbaiki diri di dalam firman-Nya (Al-Quran), dan banyak sekali kita menemukan ayat-ayat yang menjelaskan Allah Maha Pengampun, diantaranya pada surah An-Nahl (16) ayat 119; 




tsumma inna rabbaka lilladziina 'amiluu alssuu-a bijahaalatin tsumma taabuu min ba'di dzaalika wa-ashlahuu inna rabbaka min ba'dihaalaghafuurun rahiimun 
119. Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam setiap Firman-Nya dijelaskan bahwa Allah mengampuni hamba-Nya yang bertaubat, karena Allah tahu bahwa manusia itu tempatnya salah. Dalam menjalani hidupnya manusia tak luput dari berbuat salah. Namun Allah memberi kita kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri.

Di perjalanan hidup, manusia mengalami metamorfosis untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Untuk bermetamorfosisi bukanlah sesuatu yang mudah, kita memerlukan kesungguhan, kesabaran dan sangat memerlukan dukungan orang-orang disekitar kita.

Meninggalkan masa lalu, meninggalkan kebiasaan-kebiasan yang dulu adalah perjuangan berat, karena setan dan iblis yang menjadi musuh manusia tak henti-hentinya menjerumuskan manusia kedalam lembah dosa.

Saya sangat haru melihat orang mampu bermetamorfosis menjadi hamba Allah yang lebih bertaqwa, karena saya menyadari sekali itu adalah sesuatu yang terberat di lakukan, perjuangan terbesar yang dilakukan oleh seseorang. Hanya tangan Allah yang mampu menguatkannya untuk melakukan perubahan diri, menata diri menjadi lebih baik. Sungguh beruntung orang yang telah bermetamorfosis , yang mampu memperbaiki diri menjadi lebih baik, sehingga kecintaan dan ampunan Allah di raihnya.

Sebagai hamba Allah, saya juga tak luput dari kesalahan-kesalahan, dosa-dosa. Oleh karena itu setiap saat saya berjuang untuk berbenah diri, menata hati. Terkadang disaat bangkit, kembali lagi tergelincir pada lembah kesalahan, dan dosapun tak dapat dielakkan, oleh karena itu disaat bermetamorfosis, saya selalu sertai permohon pada Allah agar diberi ke kuatan untuk melawan kelemahan diri sendiri, diberi kemampuan untuk bersungguh-sungguh, bersabar menjalani proses perubahan itu. 

Alhamdulillah, kita di pertemukan kembali dengan bulan suci Ramadan. Suasana di bulan suci Ramadan yang sangat syahdu ini , sangatlah membantu sekali untuk  bermetaformosis, memperbaiki diri, meningkatkan ketaqwaan, menata hati dengan meningkatkan rasa syukur pada-Nya, meningkatkan empati pada sesama, semoga perubahan diri mendatangkan Ampunan-Nya, meraih Rahmat-Nya, dan harapan menjadi penghuni surga-Nya kelak.

Inilah satu diantara rahasia "puasa" yang diperintahkan Allah kepada hamba-Nya. Puasa yang dilakukan tidak hanya puasa menahan lapar dan haus, tapi puasa mata, puasa telinga, puasa lisan. Rahasia perintah itu, tak lain adalah membantu manusia untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, ketaqwaan, karena Allah tahu apa yang dibutuhkan manusia. Puasa dibutuhkan manusia untuk bermetamorfosis, memperbaiki diri.

Saya sangat terinspirasi kata-kata bijak berikut ini ; 

Tuhan MEMPROSES hidup seseorang,
Bagaikan…, seorang penambang emas di sungai, MEMPROSES endapan “lumpur hitam”, yang diambil dari dasar sungai, “dipilih” dan “dilebur” jadi LOGAM MULIA…

Banyak yang diambil…
Tapi sedikit yang terpilih…

Yang TERPILIH,
Dicuci dengan KESABARAN dan KETABAHAN… hingga nampak mulai berkilau, keadaannya jadi jauh LEBIH BAIK dari sebelumnya…

Tapi…
Yang TIDAK TERPILIH,
Pasti akan TERJATUH kembali ke dalam sungai, LENYAP tak berbekas dalam “kebinasaan”…

Selanjutnya…
YANG TERPILIH,
Harus masuk dalam PROSES PEMURNIAN…,
Kuali panas siap melelehkannya…

Siapa yang MENYERAH,
Dan tak dapat bertahan…,
PASTI akan hancur oleh panasnya kuali pemurnian…!

Tapi…
Siapa yang BERTAHAN…,
Dialah yang teruji…!
JADILAH EMAS MURNI YANG TERBAIK…!!!

Semoga saya dan kita semua mampu bersabar melewati proses yang harus dilewati untuk menjadi hamba Allah yang bertaqwa demi meraih surga-Nya kelak. 






Jumat, 27 Juni 2014

Amalan yang berpahala besar

Bismillahirromanirrohim

Esok hari kita akan memasuki bulan suci Ramadhan, bulan penuh ampunan. Semua ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan di lipatgandakan. Untuk itu marilah kita raih sebanyak-banyak pahala di bulan suci ini dengan memperbanyak amal ibadah. 

Banyak sekali amalan yang dapat kita lakukan untuk mengisi waktu setiap harinya, dan ibadah-ibadah itu makin kita giatkan lakukan selama bulan Ramadan, karena Allah memberi kita kesempatan untuk mendapatkan pahala yang berlipatganda.

Diantaranya memperbanyak membaca Al-Quran. Siapa saja membaca Al-Quran dalam sehari semalam 50 ayat, maka tidak dicatat sebagai orang lupa, siapa saja membaca 100 ayat akan dicatat sebagai orang ta'at, siapa saja membaca 200 ayat tidak akan didebat / digugat oleh Al -Quran pada hari kiamat, dan siapa saja membaca 500 ayat akan dicatat baginya se gudang pahala.

Oleh karena itu jangan lagi sibukkan lisan kita dengan memperbanyak mengobrol yang tak bermanfaat.
Yuk.....kita sibukkan lisan kita dengan banyak mengucapkan kalimat-kalimat yang ringan di lisan namun berat dalam timbangannya.

" Laa Iaaha  illalaahu wahdahu laa syariikalah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alla kulli syai'in qadiir".
( Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan haq kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, Bagi-Nya segala pujian da Dia-lah Yang Maha Kuasa  atas segala sesuatu )

Siapa yang mengucapkan kalimat tersebut seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala yang sama dengan pahala memerdekakan sepuluh orang budak, akan di catat baginya seratus kebaikan, di berikan kepadanya sebuah benteng yang dapat menjaganya dari godaan setan sepanjang hari hingga datang waktu sore, dan tidak ada seorangpun yang datang dengan membawa pahala yang lebih baik dari pada apa yang di bawanya, kecuali orang-orang yang melakukan hal yang sama dengan jumlah lebih banyak. ( H.R. Bukhori-Muslim-Tirmidzi-Ibnu Majah-dan Ahmad ).

Rasullah bersabda " Aku bertemu dengan Ibrahim di malam saat aku diisra-kan, Beliau berkata Wahai Muhammad ! sampaikan salamku untuk umatmu, beritahulah mereka bahwa surga itu tanahnya baik, airnya segar dan surga bagaikan lapangan, dan tumbuhannya ialah "Subhanallah walhamdulillah wala Ilaha Illallah wallahu Akbar Wa La Haula Wa la Quwwata Ila billaah"
( Maha suci Allah dan segala Puji bagi Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar, tidak ada daya dan upaya melainkan dari Allah )

Siapa yang di waktu pagi dan sore mengucapkan "Subhanallah wa bihamdihi dan Subhanallah wa bihamdihi Subhanallahil 'Azhim" seratus kali, niscaya terhapuslah dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan. Dan tidak ada seorang pun pada hari kiamat yang membawa bekal yang baik daripada yang dibawanya, kecuali seseorang yang mengucapkan seperti yang diucapkannya atau lebih banyak darinya.

Maukah aku tunjukkan kepadamu simpanan dari simpanan - simpanan surga?" Aku ( Abu Musa al -Asy'ari) menjawab, "Tentu wahai Rasulullah" Beliau bersabda La Haula Wa la Quwwata Illa bilah ( tidak ada daya dan upaya melainkan Allah).

Rasulullah bersabda : Siapa saja bangun di malam hari dan mengucapkan "Laa Iaaha  illalaahu wahdahu laa syariikalah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'alla kulli syai'in qadiir. Alhamdulillah Subhanallah wala Ilaha Illallah wallahu Akbar Wa La Haula Wa la Quwwata Ila billaah" kemudian mengucapkan Allaahummagh firlii atau memanjatkan do'a, maka akan dikabulkan do'anya itu. Dan apabila ia berwudhu dan mendirikan shalat maka langsung diterima ibadah shalatnya.

Memperbanyak ucapan Sayyidul Istiqfar "Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta Khalaqtanii wa ana 'abduka wa ana 'alaa 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu a'uudzubika mi syarri maa shana'tu abuu'u laka bini'matika 'alayya wa abuu'u bidzambii fagfir lii fa innahuu laa yaghfirudz dzunuuba ilaa anta" 
( Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan melainkan Engkau, Engkau-lah yang menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu. Dan aku berjanji setia kepada-Mu sekuat kemampuanku, aku berlindung dari kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Karena itu, berilah ampunan kepadaku karena tidak ada yang dapat mengampuni segala dosa kecuali Engkau). 

Siapa membacanya dengan penuh keyakinan pada siang hari lalu mati pada hari itu, atau membacanya pada malam hari lalu mati pada malam itu maka ia termasuk ahli surga. 

Memperbanyak bershalawat kepada nabi. "Siapa yang bershalawat kepadaku satu shalawat, maka Allah akan bershalawat padanya sepuluh kali, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan dan ditinggikan derajatnya sepuluh derajat " 

Ibadah lisan ini ringan namun besar pahala yang akan kita raih nantinya, menjadi semakin memotivasi kita untuk berlomba-lomba mendapatkan pahala tersebut. 

Semoga kita dapat menjalani ibadah di bulan Ramadan ini dengan khusyu' dan mendapatkan ampunan-Nya, mendapatkan Rahmat & Ridho-Nya.




sumber : Tafsir Al-'Usyr Al-Akhir