Sabtu, 14 Mei 2011

Daun pun berdzikir

Ini adalah sebuah novel Religius Inspirasional yang ditulis oleh Taufiqurrahman Al-Azizy. Di novel ini sang penulis menceritakan tentang cinta dan persahabatan. 

Tokoh utama nya adalah seorang pemuda yang bernama Haydar yang sangat religius memiliki beberapa sahabat diantara nya Sofi dan Nayla.
Semenjak  kepergian  sang ayah  ke alam baka telah merubah keadaan Haydar. Kepergian sang Ayah tercinta telah membuat jiwa Haydar tergoncang, sedih yang begitu dalam dirasakan Haydar karena dia tak sempat melihat jenazah ayahnya. Hari-harinya di lalui oleh Hayar dengan menyendiri dan menyepi. Kepada pohon dia berbicara, seakan-akan dia tengah berbicara dengan ayahnya. Pohon diajak berbicara sebab ayahnya sering berteduh dibawahnya.  Kepada sungai yang  mengalir, dia berkata-kata, sebab disanalah sang ayah sering kali mengajarkan betapa indah alam di ciptakan-Nya. Ketika diladang, dia sering meneteskan air mata, sebab disanalah dia sering bersama ayahnya menghabiskan siang untuk bekerja. Ketika malam, dia sering berada dimesjid menjeritkan hati dan menumpahkan air mata di hadapan-Nya, hingga suara sengguk tangisnya membangunkan orang-orang disekitarnya. 


Perubahan sikap Haydar ini menyebabkan telah terjadi salah penilaian warga dusun Gagatan terhadap diri Haydar sehingga berhembuslah berita "Haydar Gila". Sebutan ini telah menjauhkan Haydar dengan sahabatnya Sofi. Ibu Sofi telah membuat sangkar emas untuk Sofi agar dia tak bisa lagi menemui Haydar. Sang ibu tak menginginkan anak perempuannya mencintai Haydar yang miskin dan gila itu, sehingga sang ibu mempertemukannya dengan seorang pemuda kota bernama Bram.

Bram berbeda sekali dengan Haydar. Caranya mendekati dan mencuri hati Sofi. Cinta Bram yang begitu besar tak mampu meluluhkan hati Sofi. Penolakan Sofi telah menghancurkan hati dan jiwa Bram, hingga  Bram kehilangan akal sehat dan prilakunya menjadi lebih aneh lagi dibandingkan Haydar. Karena dia telah meletakkan harta diatas cinta, hingga cinta itu tak berharga apa-apa bagi Sofi.

Teman - teman Bram mencoba membantu Bram untuk mendapatkan hati Sofi, berbagai taktik licik dilakukannya seperti mempermalukan Haydar di depan Sofi dan bahkan memfitnah Haydar telah menggunakan guna-guna untuk mendapatkan hati Sofi. Begitu banyak cobaan yang dihadapi Haydar. Tetapi begitu kayanya jiwa Haydar, hingga  dia dapat melewatinya dengan tabah dan sabar dan disamping itu sahabatnya Nayla ikut memberikan suport kepada Haydar, hingga Haydar semakin kuat menerima cobaan yang bertubi - tubi menghampiri Haydar.

Cinta Bram yang begitu besar terhadap Sofi telah membuat dia kehilangan diri sendiri. dan menjauh dari teman-temannya, dia telah bertingkah laku aneh, badannya tak lagi terurus, telah menjadi sangat kurus, rambut acak-acakan, baju nya lusuh dan compang - camping, berbeda sekali dengan  penampilan sebelumnya, seorang pemuda kota yang kaya dan gagah. 

Syukurlah  Bram diketemukan oleh  Kiai Ali Musthaofa. Kepada Kiai Ali Musthaofa , Bram menumpahkan beban didadanya yang telah lama menghimpitnya. Sebuah nasehat diberikan Kia Ali kepada Bram jika kau ingin mengenal cinta, kenalilah dirimu terlebih dahulu dihadapan-Nya. Dihadapan Allah SWT. cinta itu berasal dari-Nya, sebab cinta itu ditiupkan bersama ruh yang menghidupkan kita. Ruh dan cinta melebur menjadi satu. Kau merasa seakan-akan memiliki cinta, sementara engkau abaikan Zat Yang Memberimu cinta. Maka, bagaimana mungkin perasaan cintamu akan benar ? Bagaimana benar bila semakin lama engkau mencintai gadis itu, justru semakin lama engkau jauhi Dia yang menanamkan cinta kedalam hatimu?

Nasehat dari Kia Ali itu telah membuka mata hati Bram, mulailah dia melakukan perbaikan diri nya yang telah sesat selama ini. Bram mulai mendekati diri kepada pemberi cinta itu yakni Allah SWT. Kecintaan Bram kepada sang pemberi cinta telah membuat Bram menjadi pemuda yang lembut, tak lagi sombong. 

Bram mengunjungi Haydar untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang dia lakukan terhadap Haydar yang telah menambahkan kesengsaraan Haydar. Kemudian Bram memberikan mobil nya yang selama ini menemaninya didesa Gagatan kepada Haydar, dia tahu mobil itu tak bisa menghapuskan dosa-dosa nya terhadap Haydar. Tetapi kekayaan jiwa Haydar mampu memaafkan semua kesalahan Bram terhadap dirinya, begitu mulianya hati Haydar, inilah yang menyebabkan warga desa Gagatan semakin malu pada diri mereka sendiri mengingat apa yang telah mereka lakukan pada Haydar.

Karena Bram tak mungkin mendapatkan cinta Sofi, maka dia memutuskan untuk kembali kekota meninggalkan desa Gagatan dengan membawa cintanya pada Sofi. Sebelum dia pergi, Bram sempatkan berpamitan kepada Sofi dan ibunya.  Bram tertunduk menahan gejolak didadanya, tanpa dia sadari air mata menetes di pipinya.

Bram memejamkan mata, menghela nafas dalam-dalam. Telapak tangannya dikepalkan seakan-akan dia ingin mencari kekuatan dari kepalan tangannya itu. Masih dengan mata terpejam, akhirnya terucap juga curahan hatinya. " Sofi, demi Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Aku tidak pantas untuk mendapatkan cintamu. Untuk mendapatkan kasihmu. Jiwaku hanyalah pungguk dihadapan bulan kemulian jiwamu. Aku manusia yang tak tahu diri, tak punya etika dan sopan santun. Aku selalu menganggap diriku adalah manusia sempurna dengan segala yang kumiliki. Ternyata aku salah, aku keliru. Yang tengah kucintai ternyata bukan manusia biasa. Engkau bagai bunga dari surga, jiwamu tersulam dari benang-benang surgawi, yang tak tersentuh, tak teraih. sedangkan jiwaku tersulam dari benang-benang kejahatan dan kebejatan. Maafkanlah aku, Sofi"


Setelah Bram mencurahkan isi hatinya, Bram segera mohon diri dan keluar dari rumah Sofi. Sofi hanya duduk temangu-mangu setelah mendengar pengakuan Bram.


Keesokkan hari Bram bersama-sama teman yang lain Asep, Rohman, Lidya, Nana pergi meninggalkan desa Gagatan yang telah memberikan pelajaran rohani yang luar biasa pada mereka semua. Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba terdengar suara lembut yang memanggil Bram.  Bram.... ! Tegakah engkau meninggalkanku, setelah kau menyatakan perasaanmu yang paling tulus dan berharga ? Karena Allah, aku pun mencintaimu. 

Ucapan itu terucap dari bibir  Sofi.  Sebuah suara yang sangat dirindukan, yang sangat didambakanya. Sebuah suara yang dicarinya selama ini kemana-mana. Sebuah suara yang menghentikan langkahnya, memejamkan matanya, mendebarkan detak jantungnya, menggetarkan sendi tubuhnya. Sebuah suara yang tak diduga-duganya. Panggilan kekasih.

Senang sekali aku telah membaca buku yang luar biasa ini. Sudahkah sahabat membacanya juga? Di buku ini banyak sekali kata-kata bijak yang dapat kita jadikan renungan. Kepribadian Haydar dapat menjadi tauladan bagi kita semua dalam menjalani kehidupan, sikap sabar dan lembut serta hati yang penuh dengan cinta, kasih sayang kepada siapapun dapat kita ambil contoh  dari diri seorang Haydar yang hidup dengan kesederhanaan tetapi memiliki jiwa yang sangat kaya.

Judul     : Daun pun berdzikir
Penulis   : Taufiqurrahman Al-Azizy.
Penerbit : Laksana

Terbit    : Mei 2010
Kategori : Fiksi/Novel
Tebal     : 361 halaman

25 komentar:

  1. review yang menarik mba, jadi tertarik untuk membelinya ....

    BalasHapus
  2. waaaaaaa...novel lagi ya..novel dengan gaya ini lagi ngtrend kayaknya ya...mantap bu reviewnya...

    salam :)

    BalasHapus
  3. novel yang sarat nasehat agar kita selalu mengingat yang maha kuasa

    BalasHapus
  4. manteb nih isinya, reviewnya juga sudah memberikan gambaran yang jelas bagaimana menjalani dan menerima segala bentuk cobaan hidup dengan iklhas dan kesabaran.

    BalasHapus
  5. Perlu baca bukunya sepertinya bagus..?
    salam kenal

    BalasHapus
  6. yaah ini mah isinya udah dibuka disini semua, jadi udah tahu ceritanya dan nggak penasaran lagi sama isi bukunya. hahahaa..
    siip.. nggak perlu beli bukunya kalo gitu ^_^
    #ngirit mode on

    BalasHapus
  7. kemarin waktu ke gramed sempet liat novel ini, tapi ga beli...
    membaca sedikit isinya di sini
    wah sayang kemarin ga jadi beli. hehehe
    sampul luarnya mirip-mirip bumi cinta nya kang Abik ya mbak. saya sempet mengira kalau ini karangan kang Abik. eh ternyata bukan.

    salam kenal dari bintangair... semoga berkah. amin...

    BalasHapus
  8. Novelnya di bagi gratis aja sm anak2 blogger,,kan ada pahalanya nanti kak...?

    BalasHapus
  9. wah, suka baca novel juga ya? nice :)
    di blog'ku ada giveaway novel, siapa tau tertarik :)

    BalasHapus
  10. Wah,Usah lama gak baca novel relegius,makasih reviewnya..

    BalasHapus
  11. Wah review nya membuat diriku tertarik untuk meminjam nya :D

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    BalasHapus
  12. informasi menarik sob,ditunggu kunjungan baliknya...:)

    BalasHapus
  13. Boleh tuh jadi resensi kalau ntar aku jalan2 ke toko buku...mksih yah informasinya....

    BalasHapus
  14. wah, belum tau, kayaknya menarik...

    BalasHapus
  15. makasih ya udah ceritain sedikit tentang novel daun pun berdzikir.. keliatannya bagus, bisa jadi referensi baru nih.

    BalasHapus
  16. jadi nambah neh list buku yg mo dibaca..
    menarik mbak :)

    BalasHapus
  17. Pasti bagus tuh buku. Isinya penuh dengan nasihat agar kita selalu mengingat Allah...

    Salam kenal,,

    BalasHapus
  18. Bukunya ini perlu di film kan..hehe

    BalasHapus
  19. pingin baca juga noch sob....

    salam persahabatan selalu dr MENONE

    BalasHapus
  20. Saya belum pernah baca bu...
    lama sekali gak kemari..maaf ya bu kemarin2 lagi ada kesibukan dan kondisi badan juga agak malas karna lelah.
    Gimana kabarnya bu..moga sehat ya.

    BalasHapus
  21. jadi bagaimana dgn haydar? dia gagal mendapat cinta sofi bukan

    BalasHapus
  22. Novel sekaligus dakwah.. Bagus sekali tapi coba sekali kali novelnya jangan ada cinta-cintaan lawan jenis kali ya .. soalnya bosen juga novel cinta-cintaan gitu.

    BalasHapus
  23. makasih buat infonya mbak

    BalasHapus
  24. novel ini memang banyak menghadirkan kata** yang menginspirasikan tentang arti cinta yang sesungguhnya,,,,
    dan novel in pula yang kupilih sbgi tugas praktik bhs indonesia riview novel .
    semoga besok aku mendapatkan nilai yng bagus,,
    aamiin ...

    BalasHapus