Senin, 09 September 2013

23 tahun bersama mu

Bismillahirromanirrohim



Ya Allah..... Terimakasih telah Engkau hadirkan seseorang untuk hamba, yang selalu menyayangi dengan tulus, mencintai hamba dengan sepenuh hatinya, menerima segala kekurangan hamba, memberikan kenyaman disetiap saat dan selalu menjaga hamba dengan segenap jiwanya.
Ya Rabb.... Hamba ingin menjadi istri sholeha, dengan Ke Agungan Rahmat-Mu masukkan hamba kedalam golongan hamba-Mu yang sholeha.


Ya Allah, mohon bantulah hamba.....
Hamba ingin menjadi seorang istri yang senantiasa bertaqwa kepada Mu dan mengikuti apa yang Rasullah SAW Sabda dan Tauladankan
Hamba ingin menjadi seorang istri yang senantiasa hormat dan taat serta patuh kepada suami.
Hamba ingin menjadi seorang istri yang senantiasa menghibur hati suami sedang ada masalah.
Hamba ingin menjadi seorang istri yang senantiasa menjadi penyejuk bagi suami dan anak hamba
Hamba ingin menjadi seorang istri yang tak segan-segan menasehati jika suami melakukan hal yang tak baik.
Hamba ingin menjadi seorang istri yang senantiasa menjadi pengayom dan penuh kasih sayang dalam merawat serta mendidik anak hamba
Hamba ingin menjadi seorang istri yang selalu bisa memperhatikan apa yang disukai dan apa yang tak disukai suami.
Hamba ingin menjadi seorang istri yang senantiasa lebih mementingkan meningkatkan ibadah dari pada di gunakan untuk hal-hal yang tak begitu penting.
Hamba ingin menjadi seorang istri yang lebih betah di rumah dari pada diluaran untuk hal-hal yang tak berguna.
Hamba ingin seperti pakaian buat suami, menutup dan menyembunyikan semua kekurangannya
Hamba ingin seperti buku harian bagi suami, dia bisa menulis apa saja di situ. 

Ya Allah ..... mohon mudahkanlah hamba untuk melakukan semua itu.

23 tahun hidup bersama, perjalanan yang panjang, banyak cerita dan kenangan yang terjadi selama 23 tahun itu. Hidup bersama, bukan berarti harus memiliki persamaan dalam semua hal, tapi bagaimana kita menerima perbedaan itu. Sepanjang pengertian ada maka segala perbedaan dapat di terima.

Sebelum menikah, saya mengenal suami dalam  waktu yang singkat, Januari 1990 awal mengenalnya dan beberapa bulan kemudian kami memutuskan untuk menikah, tanggal 9 September 1990 waktu yang kami pilih untuk menyatu dalam sebuah perkawinan. 

Keputusan saya sungguh membuat keluarga besar saya kaget, terutama orang tua saya, tapi saya berusaha meyakinkan mereka bahwa ini adalah  pilihan saya. Semakin kaget lagi, saya memutuskan menikah nya tetap di Kota Balikpapan bukan di Kota kelahiran saya  yaitu Padang, alasannya saya tak ingin membebani orang tua akan pesta pernikahan kami, saya ingin mereka seperti tamu tanpa di bebani pikiran dan biaya, seperti yang saya cita-citakan sejak dulu. Alhamdulillah, mereka berdua merestuinya dan percaya dengan pilihan saya.

Sejak tanggal 9 September 1990  itulah kami baru belajar saling mengenal satu sama lain, perbedaan-perbedaan itu  kami nikmati sebagai warna-warni dalam perjalanan hidup kami. Pintu pengertian kami buka selebar-lebarnya agar cinta  dan kasih sayang yang bening dengan mudah masuk dalam kehidupan rumah tangga kami.

Hidup bersama dengan perbedaan bukan tanpa masalah dalam menjalani hidup berumah tangga. Kami tidak memandang masalahnya tapi bagaimana cara kami penyelesaikannya. Kami selalu berusaha tidak akan melibatkan orang ke 3, baik orang tua maupun orang lain. Setiap ada masalah selalu kami selesaikan hanya kami berdua. Alhamdulillah .... Semua bisa kami atasi dengan baik.

Di tahun ke 3 saya sempat kehilangan kepercayaan diri, setelah hasil diagnosa dokter menyatakan bahwa saya mengalami kesulitan untuk memiliki keturunan. Berita itu bagi seorang istri sangat berat untuk menerimanya, apalagi setiap bertemu orang lain ..."Kapan nih punya momongan?" Saat itu sulit sekali menghadapi pertanyaan seperti itu. Tak jarang rasa bersalah menyelimuti hati saya, tidak dapat memberikan kesempurnaan untuk suami. Alhamdulillah, suami yang selalu menguatkan dan meyakinkan saya bahwa semuanya adalah Kekuasaan Allah, dan pasti ada rencana Allah yang indah di balik semua itu. Dan akhirnya hanya "pasrah" yang dapat kami lakukan, kami percayakan semuanya kepada Allah. Alhamdulillah .....Do'a dan  Kepasrahan kami di jawab Allah di tahun ke 8, di amanahkanlah kepada kami seorang putra yang sudah lama kami tunggu-tunggu kehadirannya.

Bagi kami, kami ibarat "sepasang sepatu" ada sebelah kiri dan sebelah kanan, keduanya memiliki bentuk yang berbeda, tapi saling melengkapi, saling mendukung, berjalan sinergis, selalu menempatkan diri pada posisi atau kodrat masing-masing sehingga dapat memperkecil masalah yang timbul dari semua perbedaan itu.

23 tahun sudah kami jalani hidup bersama. Perjalanan yang panjang itu, tidak membuat kami berhenti belajar membangun rumah tangga  Sakinah, Mawaddah dan Warahmah. Kami terus belajar....belajar...dan terus belajar.

Suamiku.....terimakasih telah menyayangiku dengan sepenuh hati, membimbing ku dengan penuh kesabaran, menjagaku dengan tanpa mengeluh.....tetaplah gandeng tanganku dengan cinta & kasih sayangmu, senantiasa menjadi Imam dalam perjalanan hidupku. Maafkan diriku bila hingga saat ini belum menjadi yang sempurna untukmu, tapi ku akan terus belajar menjadi terbaik untukmu.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Rahmat & Ridho-Nya serta senantiasa  memberikan  Taufiq -Hidayah-Nya pada keluarga kita. Aamiin














11 komentar:

  1. wow....
    dua tahun lagi perayaan 25 tahun bersama....
    apa resepnya Bu..?

    BalasHapus
  2. Happy Anniversary mbakku....
    Semoga semua doa2 mbak diijabah
    Semoga keluarga mbak selalu rukun dan bahagia

    Baru sekarang aku tahu bahwa kehadiran Yoga cukup lama juga dalam keluarga mbak ya?
    Salam sayang mbak...

    BalasHapus
  3. subhanallah alhamdulillah bu sukam, ketelatenan, kesabaran dan juga kepasrahan yang membuahkan hasil indah di kemudian hari. Semoga senantiasa diberi kesehatan dan kekhusyukan dalam beribadah buat keluarga bu sukma. amiin

    BalasHapus
  4. Subhaallah....
    Sebuah perjalanan cinta yg gak mudah, tp dgn kesabaran dan keyakinan bs dilalui... so sweet mbak. Semoga seterusnya akan seperti ini, sakinah mawaddah warrahmah :)

    BalasHapus
  5. @ Dihas Enrico; resepnya saling percaya, saling mengerti, saling menhargai dan saling mengalah

    Mbak Reni. Mas Agus, Zasachi .....makasih ya doanya

    @ Zasachi .... smg segera menyusul ya ^_^

    BalasHapus
  6. Barokallohu fi kum. Wah meski nggak nggak begitu banyak selisihnya dengan perkawinan kami, sempat kaget juga loh Mbak. Soalnya begitu membaca angka 25 mak trataabbb hati ini, begitu cepatnya waktu berlalu.
    Akhirnya, kita saling mendo'akan kebaikan bersama agar waktu kita semakin barokah untuk kehidupan dunia dan akhirat.

    BalasHapus
  7. @ Nea....makasih ya

    @ Mas Ies....Aamiin.... Makasih do'anya

    BalasHapus
  8. pokoknya ibu sukma ini perlu jadi teladan bagi junior seperti saya, hehehe

    BalasHapus
  9. wah sudah 23 tahun, saya belum...

    minta like atau komentarnya disini ya, karena setiap like atau komentar anda memberikan kesempatan mendapatkan satu buah motor TVS Apache

    BalasHapus