Minggu, 01 Februari 2015

Mengenangnya

Bismillahirromanirrohim

Hari ini tanggal 1Februari 2014 adalah bulan ke 3 kepergian suami menghadapi Illahi. Terkadang saya merasa beliau masih ada, hanya saja sedang dinas keluar kota, sulit menghapus bayang-bayang itu, 24 tahun bersama dengannya,  begitu banyak kenangan indah yang kami alami, dan bayang-bayang itu selalu hadir dalam kesaharian saya  tanpa dia. 

24 tahun hidup bersama tanpa ada konfik berarti menjadi kenangan indah dan kebahagian yang tak mungkin terlupakan bagi saya, meskipun kami berbeda.... saya yang introver sedangkan  suami seseorang yang ekstrover, perbedaan itu menjadi warna yang indah bagi kami, saling melengkapi, kami tidak pernah menjadikan diantara kami seperti yang kami ingin, tapi tetap memberi ruang untuk berkembang dengan kepribadian masing-masing, saling membantu membangun diri.... Alhamdulillah, begitu tenang dan nyaman kehidupan yang kami lalui setiap harinya.

Bulan Desember 1989, adalah awal saya mengenal beliau. Saat itu bagi saya seperti berkenalan dengan seseorang yang baru seperti layaknya orang berkenalan. Tidak terlintas ini akan menjadi teman hidup saya, karena saat itu saya belum terpikir untuk mencari teman hidup. Sejak perkenalan itu hampir setiap hari saya mendapat pesan dari teman sekantor "ada salam dari pak Natta", dengan cueknya saya selalu bilang "salam kembali", pikir saya biasalah seperti orang berteman. 

Suatu hari, saya di buat kaget, saat Kepala sekolah memanggil saya ke ruangnya. Sempat deg-degan, ada buat salah apa ya...? Sesampai di ruang beliau saya dipersilahkan duduk dihadapannya. Bicara basa -basi sedikit sebagai pemuka obrolan, lalu kepala sekolah itu menanyakan apakah saya punya teman istimewa saat itu, agak kaget sih di tanya hal tersebut, karena yang bertanya pimpinan, ya terpaksa di jawab apa adanya, bahwa saat itu saya tidak punya teman spesial. Lalu beliau mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin menjadikan saya pendaping hidupnya. Mendengar perkataan kepala sekolah itu membuat saya kaget dan terperangah, loh kok urusan ini menjadi urusan kepala sekolah sich. 

Membaca raut wajah saya yang bengong itu, segeralah kepala sekolah itu menjelaskan mengapa dia mengataka hal ini. Menurutnya karena sifat saya yang"cuek" itu membuat dia tidak punya keberanian mengatakannya langsung pada saya..... oh Tuhan kok jadi begini, pikir saya. Dan saat itu saya tidak memberi jawaban apa-apa, hanya mengucapkan terima kasih pada kepala sekolah  tersebut telah memberitahukan pada saya akan hal tersebut.

Sejak saya tahu akan hal tersebut, barulah saya mulai mengamati dan mencari tahu tentang dia. Saya mengamati bagaimana sikapnya pada orang lain dan terutama kepada perempuan, bagi saya itu hal yang sangat penting, karena bila seseorang bersikap santun kepada siapa saja, pastilah dia akan lebih santun kepada pasangannya. Dari sikapnya yang sangat santun dan hormat kepada teman-teman wanita lainnya menjadi nilai plus bagi saya, apalagi dia bukan tipe laki-laki yang ganjeng terhadap perempuan, inilah menarik bagi saya, dan saya melihat juga dia bagaimana begitu melindungi wanita. 

Pernah saya menemukan dia mengatarkan satu persatu teman - teman wanita sekantor saya yang tidak di jemput suaminya ke jalan yang di lalui angkutan kota, karena sekolah saya yang dulu tidak di lalui oleh kendaraan umum, jadi harus ke luar dengan beberapa ratus km menuju jalan yang di lalui angkutan kota. Saya sangat kagum dengan sikap dia seperti itu. Lalu saya berpikir, kelak saya pasti akan lebih dilindungnya, inilah yang membuat saya jatuh hati padanya.

Beberapa kali dia bertamu kerumah, menawarkan diri menjemput dan mengantar saya ketempat kerja,  lalu saya bertanya, apa yang menjadi maksud dari kebaikan tersebut. Barulah dia memberanikan diri mengemukan maksudnya untuk menjadikan saya pendamping hidupnya. Lalu saya bilang, kalo mau mintalah saya kepada kakak saya, karena saat itu saya tinggal dengan kakak tertua, karena orang tua berada di Padang. Dan ternyata benar, dia meminta saya kepada kakak saya, awalnya saya hanya berpikir menantang dia, berani nggak ya dia ...!?

Alhamdulillah, Allah meridhoinya, kakak menerimanya dan menyerahkan keputusannya pada saya. Karena beberapa kriteria yang menjadi pasangan hidup saya sudah dapati darinya, lalu apa lagi yang harus saya  cari. Dan sejak saat itu kami mulai merencanakan pernikahan kami. 

Di mulai acara lamaran, menentukan tanggal pernikahan, jatuhlah pilihan kami tanggal 9 -9 -1990, bagi kami angka itu istimewa. Sejak saat itu beberapa persiapan kami mulai lakukan. Kami agak aneh saat itu, kami tidak memulai dengan mempersiapkan untuk perlengkapan pesta pernikahannya, tapi kami awali mencari rumah kontrakkan dan setelah itu mengisinya dengan perabotan rumah yang minimalis. Karena kami ingin memulai berumah tangga dengan mandiri. 

Barulah sisa dana yang tersedia kami alokasikan untuk pesta pernikahan. Karena bagi kami untuk penyelenggaraan pesta itu bisa di buat besar dan bisa juga di buat sederhana, yang penting tidak memaksakan diri. Untuk pesta kami tidak terlalu membebani keluarga, kami merencanakan sesuai dengan dana yang ada, tidak memaksakan diri. 

Alhamdulillah, Acara akad nikah di pagi hari dan acara resepsi pernikahan di malam hari berjalan lancar. Tanggal 9 - 9 - 1998 jadilah tanggal bersejarah dalam hidup kami. Allah menyatukan kami dalam sebuah pernikahan. Sejak saat itu kami menjalani hidup sebagai suami istri. 

Hari-hari kami mulai mengenal lebih jauh satu sama lain, setiap perbedaan kami jadikan sebagai pelengkap diantara kami. Alhamdulillah, kami tidak mengalami kendala, semua berjalan dengan baik. Segala sesuatu kami lakukan bermusyawarah melalui diskusi, mulai mengatur keuangan, semuanya kami bicarakan dengan terbuka. Keterbukaan dan toleran itu menjadi akar rumah tangga kami dengan demikian kami dapat terhindar dari konflik di rumah tangga kami. 

Sifat suami yang santun, sabar, penyayang serta humoris menjadikan saya begitu nyaman mendampinginya. Saya merasakan begitu istimewa baginya, ini melengkapi kebahagian saya, hari -hari bahagia melengkapi perjalanan hidup kami. 

Pernikahan kami teruji di saat kami belum juga di karuniakan seorang anak, kami mulai memerikasakan diri ke dokter kandungan . Dari hasil diagnosa terdapat gangguan pada organ reproduksi saya , terjadi penyempitan di saluran telur ( tuba falopii), berita ini membuat saya terpukul sekali, merasa belum lengkap menjadi seorang istri. Alhamdulillah suami selalu membesarkan hati saya, selalu suport saya, selalu mengingatkan saya , untuk berserah diri pada Allah, karena hanya Allah yang mengatur hidup kita. 












Tidak ada komentar:

Posting Komentar